SEJARAH PERADABAN ISLAM PERIODE MEKAH



A. Latar Belakang 

Pada awal mula Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dari Allah SWT, yang isinya menyeru manusia untuk beribadah kepadanya, mendapat tantangan yang besar dari berbagai kalangan Quraisy. Hal ini terjadi karena pada masa itu kaum Quraisy mempunyai sesembahan lain yaitu berhala-berhala yang dibuat oleh mereka sendiri. Karena keadaan yang demikian itulah, dakwah pertama yang dilakukan di Makkah dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, terlebih karena jumlah orang yang masuk Islam sangat sedikit. Keadaan ini berubah ketika jumlah orang yang memeluk Islam semakin hari semakin banyak, Allah pun memerintah Nabi-Nya untuk melakukan dakwah secara terang-terangan.

Bertambahnya penganut agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad, membuat kemapanan spiritual yang sudah lama mengakar di kaum Quraisy menjadi terancam. Karena hal inilah mereka berusaha dengan semaksimal mungkin mengganggu dan menghentikan dakwah tersebut. Dengan cara diplomasi dan kekerasa mereka lakukan. Merasa terancan, Allah pin memerintahkan Nabi Muhammad untuk berhijrah ke kota Madinah. Disinilah babak baru kemajuan Islam dimulai.


Lihat Juga Artikel di Bawah Ini Ada Hadiah Total Hingga Rp.25.000.000,-:
1. Green Pramuka City
2. Toko Olahraga Online Murah, Lengkap, Aman dan Terpercaya
3. Tips Memilih Jasa Logistics Terpercaya Di Indonesia
4. Jual Peralatan Makan Terlengkap dan Termurah di MelamineMall.com
5. Mama Harus Tahu, Begini Cara Mengatasi Anak Susah Makan dengan Laperma Platinum, Yuk Dicoba
6. Glorimelamine.com Produsen Peralatan Makan Industri Horeka terbaik di indonesia


B. Sejarah Singkat Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad adalah anggota BaniHasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relatif miskin. Nabi Muhammad lahir pada pagi hari senin 12 hari bulan Rabi’ul Awwal tahun pertama dari tahun gajah yang masyhur yaitu 40 tahun setelah Kisra Anu Syirwan duduk di ats singgahsana kerjaan Parsi, bertepatan dengan bulan April 571 Milady menurut perhutungan Mahmud Pasja ahli falas Mesir yang terkenal ketika itu.[1]Ayahnya bernama Abdullah anak dari Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah Binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran nabi dikenal dengan tahun gajah. 
Image result for mekah
gbr:dream.co.id

Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah, meninggal dunia tiga bulan setelah ia menikahi Aminah. Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyah. Dalam asuhanyalah Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setelah itu kurang lebih dua tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia enam tahun dia menjadi yatim piatu. Seakan-akan Allah ingin melaksanakan sendiri pendidikan Muhammad, orang yang dipersiapkan untuk membawa risalahNya terakhir. 

Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun dua tahun kemudian Abdul Muthalibpun meninggal. Selanjutnya Nabi Muhammad dirawat oleh pamannya Abu Thalib, seperti Abdul Muthalib, dia sangat disegani dan dihormati oleh orang Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan, tetapi Abu Thalib ini miskin.

Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Pemikiran dan perenungan ini membuat dia jauh dari pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai noda yang merusak namanya, karena itulah Nabi Muhammad diberi gelar al-amin, orang yang terpercaya.

Nabi Muhammad ikut untuk pertama kalinya berdagang ke Syria (Syam) dalam usia 12 tahun yang dipimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di Bushra, sebelah selatan Syria, ia bertemu dengan pendeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai petunjuk-petunjuk cerita Kristen. Sebagian sumber mengatakan bahwa pendeta itu menasihati Abu Thalib agar jangan terlalu jauh memasuki daerah Syria, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi melihat tanda-tanda itu dan berbuat jahat kepada Nabi Muhammad.[2]Pada usia yang kedua puluh lima, Muhammad berangkat ke Syria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Khadijah adalah janda Mekah yang berkedudukan tinggi. Pada masa sebelum Islam dia telah memperoleh gelar Tahra artinya yang berbudi tinggi, karena kebajikan dan keadilanya.[3] Dalam perdangan ini Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamar Muhammad. Lamaran itu diterima dan menikahlah mereka, Muhammad dalam usia 25 dan Khadijah pada usia 40 tahun. Dalam perkembangan selanjunya,Khadijah adlah wanita yang pertama masuk Islam. Perkawinan bahagia dan saling mencintai dikarunia enam orang anak dua putra dan empat putri:Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua putra Nabi meninggal pada waktu kecil. Nabi muhammad tidak pernah kawin lagi sampai Khadijah Meninggal dunia ketika Muhammad berusia 50 tahun.

Pristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada usianya 35 tahun. Waktu itu bangunan Ka’bah rusak berat. Perbaikan Ka’bah dilakukan secara gotong royong. Para penduduk Mekah membantu kegiatan tersebut secara sukarela. Tetapi pada saat terkahir,ketika pekerjaan tinggal mengangkat hajar aswad di tempatnya semula timbul perselisihan. Setiap suku merasa berhak melakukan tugas terakhir dan terhormat itu. Perselisihan semakin memuncak, namun akhinya para pemimpin Quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke Ka’bah melalui pintu Shafa, akan dijadikan hakim untuk memutuskan perkara ini. Ternyata orang yang pertama masuk itu adlah Muhammad. Ia pun dipercaya menjadi hakim. Muhammad kemudian membentangkan kain dan meletakan hajar aswad di tengah-tengah, lalu meminta seluruh kepala suku untuk memegang tepi kain itu dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu, Muhammad kemudian meletakan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian perselisihan dapat diselesiakan dengan bijaksana dan semua kepala suku merasa puas dengan cara penyelesain seperti itu.[4]

C. Keadaan Bangsa Arab Pra Islam

Ketika nabi Muhammad Lahir, Mekah adalah suatu kota yang sangat penting. Dan terkenal diantara kota-kota lainya dinegeri arab baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui oleh jalur perdangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah ditengah kota, Mekah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. 

Dalam segi geografis, jazirah terbagi menjadi dua bagian, tengah dan pesisir. Disana tidak ada sungai-sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair pada musim hujan.

Sebagian besar daerah jazirah arab berada di bagian padang pasir Sahara tengah, memiliki keadaan, sifat yang berbeda-beda, terbagi menjadi tiga bagian:

a. Sahara Langit, yakni yang memanjang 140 mil dari utara keselatan dan 180 mil dari timur ke barat. Di daerah ini, jarang sekali ditemukan lembah dan mata air. Angin disertai debu telah menjadi ciri khas suasana di tempat ini. Hal itulah yang menyebabkan daerah ini sulit dilalui.

b. Sahara Selatan, yakni yang membentang dan menyambung Sahara Langit kearah timur sampai selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus, dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan daerah sepi (al-Rub’ al-KhaliI)

c. Sahara Harrat, yakni suatu daerah yang terdiri dari tanah liat berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di seluruh sahara yang terdiri dari 29 buah.

Penduduk sahara sangat sedikit terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup nomadik, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan mereka sepertikambing dan onta. Adapun di daerah pesisir penduduknya sangat sedikitdibandingkan dengan daerah sahara. Akan tetapi penduduknya sudah hidup menetap dengan mata pencarian bertani dan berniaga. Karena itu mereka bisa membina berbagai macam budaya dan bahkan kerjaan.

Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi kepada dua golongan besar, yaitu: Qahtaniyun (keturunan Qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Ismail ibn Ibrahim). Pada mulanya wilayah utara di duduki oleh golongan Adnaniyun dan wilayah selatan di diamioleh golongan Qahtaniyun. Akan tetapi lama kelamaan kedua golongan tersebut membaur karena perpindahan dari utara ke selatan maupun sebaliknya. 

Organisasi dan identitass sosial berkar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah. Beberapa kelompok kabilah membentuk suku dan dipimpin oleh seorang syaikh. Masyarakat jazirah arab suka berperang, karena peperangan antar suku sering kali terjadi. Dalam kondisi masyarakat yang suka berperang tersebut nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi seperti ini terus berlangsung sampai agama Islam lahir. Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karena itu, bahan-bahan sejarah arab pra Islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab.[5]

Lain halnya dengan penduduk negeri yang telah berbudaya dan mendiami pesisir jazirah Arab, sejarah mereka dapat diketahui lebih jelas. Mereka selalu mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang mengitarinya. Mereka mapu membuat alat-alat dari besi, bahkan mendirikankerajaan-kerajaan. Sampai kehadiran Nabi Muhammad,kota-kota mereka masih merupakan kota perniagaan dan terletak pada jalur perdagangan yang menghubungkan antara Syam dan Samudera Hindia. Sebagimana suku badui, penduduk negeri ini juga mahir mengubah syair. Biasanya syair-syair ini dibacakan di pasar-pasarr seperti dipasar “ukaz’. Bahasa bangsa arab kaya akan ungkapan, tata bahasa, dan kiasan.

Kerajaan yang pernah dibangun oleh golongan Qahtaniyun adalah kerajaan Saba’ dan kerajaan Himyar di Yaman. Kerjaan Saba’ inilah yang membangun bendungan Ma’arib sebagai sumber air untuk seluruh kerjaan. Pada masa kerjaan Saba’ bangsa Arab menjadi penghubung perdagangan antara Eropa dengan dunia Timur. Setelah Saba’ mengalami kemunduran munculah kerajaan Himyar menggantiknya. Kerjaan Himyar ini terkenal dengan kekuatan armada niaga yang menjelajah mengaruhi India, Cina, Somalia, dan Sumatera ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Namun setelah keruntuhan bendungan Ma’arib lama kelamaan kerajaan Himyar pun mundur. 

Bagian lain dari daerah arab yang tidak pernah dijajah bangsa lain adalah Hijaz. Karena kehidupan disana yang tandus dan miskin. Kota terpenting di daerah ini adalah Mekah, kota suci tempat Ka’bah berdiri. Ka’bah pada masa itu bukan saja disucikan oleh penganut agama asli Mekah akan tetapi juga oleh orang Yahudi yang bermukim disana. Untuk mengamankan para peziarah yang datang ke kota Mekah, didirikanlah suatu pemerintahan yang pada mula nya berada pada dua suku yang berkuasa, yaitu Jurhum sebagai pemegang kekuasan politik dan Ismail sebagai pemegang kekuasaan atas Ka’bah. Kekuasaan politik akhirnya berpindah ke golongan Khuza’ah kemudian suku Quraisy dibawah pimpinan Qushai. Kekuasaan ini di amanahkan oleh mertua Qushai karena beliau tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai penguasa di Hijaz ketika itu, anak dari mertua Qusahi itu pun menolak jabatan tersebut. Akhirnya dengan kesepakatan keluarga dari pihak Hubayya akhirnya jabatan penting ini diserahkan ke Qushai.[6]Suku terakhir inilah yang akhirnya menguasai urusan politik dan kekuasaan atas Ka’bah. Sejak saat itu suku Quraisy menjadi suku yang mendominasi masyarakat Arab.

Setelah kerajaan Himyar runtuh, pusat-pusat perdangan pun dikuasai oleh Romawi dan Persia sehingga pusatperdagangan Arab berpindahke Hijaz. Sejak saat itu kota Mekah menjadi maju dan disegani bagitu juga suku Qurasy perdangan mereka semakin maju dan berkembang. Namun kemajuan yang mereka capai tidak semaju dengan kemajuan yang pernah dicapai oleh kerajaan Arab sebelumnya. Meskipun demikian, dengan berubahnya Mekah menjadi pusat peradaban, bangsa Arab bagaikan memulai babak baru dalam hal kebudayaan dan peradaban.

Walaupun agamaYahudi dan Kristen masuk ke jaziarah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya kepada banyak dewa yang diwudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah meskipun ditempat lainya juga ada. Berhala yang terpenting adala Hubal, Lata, dan Uzza. Berhala itu mereka jadikan sebagai tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk. Demikianlah kedaan bangsa dan jazirah Arab menjelang kebangkitan Islam.[7] Tidak di pungkiri lagi bahwa keadaan bangsa arab pra Islam ini sangat banyak memiliki sisi negatif. Akan tetapi di sisi lain ada modal dasar yang positif dimiliki oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu:

1. Dermawan

2. Kuat dalam memegang janji

3. Teguh dalam memegang prinsip

4. Peramah dan tidak tergesa-gesa

Ibnu Taimiyah mengibaratkan sifat-sifat yang melekat pada bangsa Arab ini seperti tanah subur yang belum ditanami atau tanah subur yang ditumbuhi oleh tanaman yang tidak bermanfaat, sehingga tanah tersebut menjadi sarang babi dan binatang buas. Apabila tanah tersebut sudah bersih dari tanaman dan binatang yang merusak, lalu ditanami dengan benih unggul, maka akan munculah tanaman dengan hasil yang memuaskan.[8]

D. Substansi Dakwah Nabi Muhammad SAWPeriode Mekah

Substansi Mekkah dakwah Nabi Muhammad Saw. periode Mekkah terkandung dalam 89 surat Makkiyah dan hadits-hadits peride Mekkah. Antara lain berisi tentang Ajaran Islam periode Mekah, yang harus didakwahkan Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah sebagai berikut :

1. Keesaan Allah SWT

Islam mengajarkan bahwa pencipta dan pemelihara alam semesta adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWT tempat bergantung segala apa saja dan makhluk-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada selain Allah SWT, yang menyamai

Umat manusia harus beribadah ata umenghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Beribadah atau menyembah kepada selain Allah SWT, termasuk ke dalam perilaku syirik, yang hukumnya haram, dan merupakan dosa yang paling besar

2. Hari Kiamatsebagaihari pembalasan

Islam mengajarkan bahwa mati yang dialami oleh setiap manusia, bukanlah akhir kehidupan, tetapi merupakan awal dan kehidupan yang panjang, yakni kehidupan di alam kubur dan di alama khirat. Manusia yang ketika di dunia nyata taat beribadah, giat beramal saleh, dan senantiasa berbudi pekerti yang terpuji, tentu akan memperoleh balasan yang menyenangkan. Di alam kubur akan memperoleh berbagai kenikmatan dan di alam akhira takan ditempatkan di surga yang penuh dengan hal-hal yang memuaskan. Tetapi manusia yang ketika di dunianya durhaka kepada Allah SWT dan banyak berbuat jahat, tentu setelah matinya akan mendapat siksa kubur dan dicampakkan kedalam neraka yang penuh dengan berbagai macam siksaan

3. Kesucian jiwa

Islam menyerukan umat manusia agar senantiasa berusaha menyucikan jiwanya dan melarang keras mengotorinya. Seseorang dianggap suci jiwanya apabila selama hayat di kandung badan senantiasa beriman dan bertakwa atau meninggalkan segala perbuatan dosa, dan dianggap mengotori jiwanya apabila durhaka pada Allah SWT dan banyak berbuat dosa.
Sungguh beruntung orang yang senantiasa memelihara kesucian jiwanya, dan alangkah ruginva orang yang mengotori jiwanya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Asy-Syams, 91: 9-10

Artinya:Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu ,dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (Q.S. Asy-Syams, 91: 9-10)

4. Penyerahan segala urusan kepada Allah [9]

5. Anjuran shalat

Mula-mula Nabi sembayang bersama sahabat-sahabatnya dirumah Al Arqam dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian setelah Umar bin Khatab masuk Islam, ia bersambahyang dengan terang-terangan di muka umum. Bahakan ada ia bersambahyang bersama sahabat-sahabatnya yang lain disisi Ka’bah di tonton oleh kaum Quraisy.[10]

Analisis penulis dalam hal ini yang bisa kita kaitkan dengan kondisi umat Islam sekarang bahwa apa-apa yang di dakwahkan oleh Nabi pada zaman dahulu, salah satunya adalah perintah shalat masih berlaku hingga masa sekarang. Umat islam pun sudah bebas tidak takut dan terjajah lagi. Umat islam zaman sekarang sudah maju dan bebas melakukan segala bentuk ibadahnya. Akan tetapi menurut penulis pada zaman sekarang bukanlah umat non muslim yang menjadi musuh, melainkan umat Islam sekarang sudah banyak terjajah oleh kepentingan dunia dan tidak memandang penting urusan ibadah. Banyak umat islam yang sibuk dengan urusan dunia sehingga kepentingan yang paling urgen yaitu shalat ditinggalkan. Inilah masalah kita umat Islam zaman sekarang, hendaknya kita bisa menyeimbangkan kepentingan akhirat dengan kepentingan dunia. Agar dakwah Nabi kita dan para sahabatnya pada zaman dahulu tetap terjaga oleh kita sebagai generasi penerus umat Islam. 

E. Strategi Dakwah Rasulullah di Mekah

1. Dakwah secara rahasia dan perorangan

Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam dilingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau.[11]Disamping itu, juga banyak rang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun yaitu orang-orang yang lebih dulu masuk Islam. Mereka adalah Usman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah secara sembunyi-sembunyi yang sampai sekarang masih berdiri di Mekah. Rumah Ini terletak di bukit shafa yang banyak dikunjungi oleh para jemaah haji dan penziarah lainya.[12]

2. Dakwah secara terang-terangan

Setelah beberapa lama melakukan secara sembunyi-sembunyi turunlah perintah atau firman untuk melakukan dakwah secara terbuka dan terang-terangan dalam ( QS: Hijr:94)

Artinya: Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.( QS: Hijr:94)

Dengan datang atau turunnya perintah itu Nabi mulai berdakwah secara terang-terangan, mula-mulanya nabi mengundang dan menyeru pada kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib. Ia mengatakan kepada mereka “saya tidak melihat seorang pun dikalangan Arab yang membawa sesuatu ketengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?”. Tapi mereka semua menolak kecuali Ali.

Langkah berikutnya yang ditempuh Nabi adalah mulai menyeru pada masyarakat umum. Maka Rasulullah naik ke bukit Shafa dan memanggil orang Mekah, beliau bersabda “Bagaimana bila aku mengatakan pada kalian bahwa dilembah sana ada seekor kuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayai apa yang saya ucapkan?” mereka menjawab “ ya , kami percaya karena kami belum pernah mendapatkan engkau berdusta” maka Rasulullah bersabda “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian tentang siksa yang sangat pedih”. [13]

Pada masa dakwah secara terang-terangan inilah Nabi mendapatkan perlakuan yang buruk dari umatnya. Karena setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul seperti Abu Lahab, Abu Jahal, Uqbah bin Abi Muith, Umayyah bin Khalaf dan tokoh-tokoh kafirlainya.[14]Karena mereka juga melihat semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, maka mereka pun semakin keras melancarkan serangan-serangan, baik pada Nabi ataupun pada para pengikut Nabi.

Berbagai cara dilakukan oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy agar Nabi menghentikan dakwahnya, saat itu mereka tidak berani melukai Nabi karena perlindungan dari pamanya Abi Thalib yang sangat disegani dikalangan masyarakat saat itu. Para pengikut Nabi yang juga termasuk kalangan bangsawan terselamatkan dari siksa kaum Quraisy saat itu, dan bagi mereka yang tidak memiliki perlindungan, harus menahan siksa yang pedih dari kaum Quraisy saat itu. Di antaranya bahkan ada yang meninggal dan buta karena dahsyatnya penyiksaan yang dilakukan kamu Quraisy. Akan tetapi semua itu tidak melemah[15]kan semangat keimanan mereka. Nabi juga mendapatkan jalan buntu dalam dakwahnya. Intinya Nabi dan para pengikutnya mendapat hambatan serta siksaan baik secara fisik dan mental dari kaum Quraisy saat itu. Sehingga kemudian Nabi memutuskan untuk menyebarkan dakwahnya di wilayah lain dengan harapan dakwahnya akan berkembang dengan pesat alasan lainnya adalah untuk menghindari serangan dari pemuka-pemuka Quraisy saat itu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dakwah beliau banyak mendapat tantangan dari kamu Quraisy yaitu sebagai berikut:

a. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib.

b. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.

c. Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan diakhirat.

d. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat akar pada bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agam Islam.[16]

e. Takut kehilangan mata pencarian karena pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki mereka. [17]

Ada beberapa langkah yang dilakukan kaum Quraisy dalam menantang dakwah Nabi Muhammad di Mekah di antaranya sebagai berikut:

1. Membujuk, karena kekautan Nabi terletak pada perlindungan Abu Thalib yang sangat disegani masyarakat Mekah maka kaum Quraisy meminta Abu Thalib meminta satu di antara dua yaitu memerintahkan Muhammad agar berhenti berdakwah atau menyerahkannya kapada mereka untuk dibunuh. Abu Thalib berharap agar Muhammad berhentikan dakwahnya. Namun Nabi menolak dengan mengatakan “ Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini. Walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak menggucilkan saya”. Abi Thalib sangat terharu mendengarkan jawaban keponakannyaitu, kemudian ia berkata” Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membantu”. 

Gagal dengan semua caranya kemudian kaum Quraisy datang langsung untuk membujuk Nabi dengan menawarkan tahta, wanita, dan harta asala Nabi bersedia menghintkan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak Nabi dengan mengatakan “ Demi Allah, biarkan mereka meletakan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini sehingga agama ini menang atau aku binasa karenanya”. 

2. Mengintimidasi, karena gagal dengan cara membujuk, para pemimppin Quraisy melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang lebih intensif dari sebelumnya. Budak-budak yang masuk Islam disiksa oleh tuanya dengan sangat kejam. Para pemimpin Quraisy menyuruh meniyiksa setiap keluarga yang anggota keluarganya yang masuk Islam untuk murtad kembali.Untuk menghindari kaum muslimin daari tindakan kekejaman ini, nabi memerintakan mereka hijrah ke Habasyah(Ethiopia). 

3. Memboikot seluruh kelaurga Bani Hasyim. Tidak seorangpun penduduk Mekah diperkenankan untuk melakukan hubungan jual beli dengan Bani Hasyim. Akibatnya banyak dari Bani Hasyim yang menderita kelaparan. Hanya karena kasihan beberapa pemimpin Quraisy menghntikan pemboikotan ini. Pembokoitan ini dimulai pada tahun ke-7 kenabian hingga tahun ke -10 kenabian menjelang Khadijah dan Abu Thalib, hal ini berlangsung selama tiga tahun. [18]

Menurut hemat penulis tentulah tindakan-tindakan yang dilakukan kaum Quraisy ini sudah berlebihan. Akan tetapi semangat dakwah Nabi Muhammad dan para sahabatnya lebih kuat sehingga kaum Quraisy tidak bisa mematahkan semangat ini. Hendaknya pengalaman ini bisa kita jadikan pelajaran dan motivasi sebagai calon penerus generasi muda Islam untuk lebih giat dan tekun menyebarkan sekaligus memajukan Islam dibidang apapun.

F. Perkembangan Pendidikan di Mekah

1. Materi Pendidikan Islam

Materi pendidik pada fase Makkah dibagi kepaada dua bagian yaitu:

Pertama, materi pendidikan tauhid , materi ini lebih di fokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliah. Secara teori inti sari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surat al- Fatihah Ayat 1-7 dan surat al-Ikhlas Ayat 1-5 secara praktis pendidikan tauhid diberikan melalui cara cara yang bijaksana, menuntun akan pikiran dengan mengajak umatnya membaca,memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaranAllahdan diri manusia sendiri. Kemudian beliaumengajarkan cara bagaimana mengaplikasikan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari hari Rasulullah lansung yang menjadi contoh bagi umatnya. Hasilnya , kebiasaan masyarakat Arab yang memulai perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim. Kebiasaan menyembah berhala, diganti dengan mengagungkan dan menyembah Allah SWT

Kedua, materi pengajaran Al-quran. Materi ini dapat dirinci kepada: 

a. Materi baca tulis Al-qur’an, untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’. Dengan materi ini dirahrapkan agar kebiasaan orang arab yang sering membaca syair syair indah, diganti dengan membaca Al-qur’an sebagai bacaan yang lebih tinggi nilai sastranya.

b. Materi menghafal ayat ayat Al-qur’an , yang kemudian hari disebut dengan menghafalkan ayat ayat Al-qur’an.

c. Materi pemahaman Al-qur’an, saat ini disebut dengan materi fahmi Al-qur’an atau tafsir Al-qur’an : tujuan materi ini adalah meluruskan pola pikir umat islam yang di pengaruhi pola pikir jahiliah. Di sinilah letaknya fungsi hadis sebagai bacaan Al-qur’an.

2. Metode Pendidikan Islam

Metode pendidikan yang dilakukan R asulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain:

a. Metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan penjelasan serta keterangannya.

b. Dialog, misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az Ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke negeri Yaman, dialog antara Rasulullah dengan sahabat untuk mengatur strategi perang

c. Diskusi atau tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum kemudian Rasul menjawabnya

d. Metode perumpamaan, Misalnya orang mukmin itu laksana tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka tubuh lainnya akan merasakannya.

e. Metode kisah, misalnya kisah nabi Muhammad dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dan kisah pertemuan nabi Musa dengan nabi Khaidir.

f. Metode Pembiasaan, membiasakan umat muslim shalat berjamaah.

g. Metode hafalan, misalnya para sahabat dianjurkan menjaga Al-qur’an dengan cara menghafalnya.

3. Lembaga Pendidikan Islam

Ada dua lembaga pendidikan Islam fase Makkah yaitu : 

a. Rumah Arqam Ibn Arqam, temapt ini merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk belajar hukum hukum dan dasar dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaaga pendidikan pertama di dalam dunia Islam dan Rasulullah sendiri sebagai pengajarnya.

b. Kuttab, pendidikan di kuttab tidak sama dengan di rumah Arqam materi yang diajarkan di Kuttab adalah materi baca tulis sastra,syair arab, dan pembelajaran berhitung namun seelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis Al-quran dan memahami hukum hukum Islam.

Adapun kurikulum pendidikan Islam yang digunaknan adalah Al-quran yang Allah wahyukan sesuai kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam saat itu. [19]

Melihat situasi pendidikan zaman sekarang jika dibandingkan dengan zaman Rasulullah dahulu, kemajuan pendidikan Islam zaman sekarang sudah jauh tertinggal oleh bangsa barat. Walaupun belum dengan sarana dan prasarana yang lengkap seperti sekarang namun Nabi dan sahabatnya tetap semangat tampa takut mati dalam menyebarkan Islam. Memang inilah tugas kita bersama pada zaman sekarang, dengan sarana dan prasaran yang sudah lengkap hendaknya kita harus lebih semangat dan harus lebih maju dari panji-panji Islam dalam menegakan agama Allah, tidak hanya pada satu bidang saja akn tetapi kita harus bisa maju dan berkembang mencakup seluruh bidang yang ada.

G. Penutup

1. Simpulan

Peradab Islam di Mekah merupakan tonggak awal muncul dan berkembangnya dunia Islam baik dibidang pendidikan, ekonomi maupun politik. Banyak hambatan dan rintangan yang di hadapi Nabi Muhammad SAW dalam memulai babak awal peradaban Islam di Mekah, baik itu hambatan dan rintangan dari dalam dalam hal dalam lingkup keluarga Nabi apalagi pemboikotan dan rintangan yang sangat dahsyat dari luar dalam hal ini dari kaum kafir Quraisy. Namun, Nabi dan para Sahabat tetap teguh pendirian dan keimanan mereka untuk menyiarkan agama Allah di Mekah. 

Tidak peduli dengan sakit dan perihnya rintangan yang diberikan kaum Quraisy, Nabi tetap mendakwahkan dan menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru jazirah Arab. Banyak kalangan dari bangsa Arab masuk Islam termasuk dari kaum Quraisy sendiri. Salah satu bukti peradaban yang dihasilkan pada masa Nabi adalah dengan adanya kuttab, tempat ini menjadi pusat dakwah dan pengembangan wawasan Islam ketika Nabi di Mekah. 

2. Saran 

Saran penulis kepada semua pihak khususnya umat Islam hari ini, agar menghargai dan melanjutkan dakwah Nabi Muhammad agar Islam berkembang, maju dan tidak sudutkan oleh bangsa manapun. Jadikan sejarah Nabi dalam mendakwahkan Islam ini menjadi motivasi untuk lebih semangat menegakan agama Allah khususnya di Indonesia. Semoga hal ini bisa terjadi. aminn




DAFTAR PUSTAKA



Abuddin Nata, 2011, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana

Badri Yatim, 2006, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada

HAMKA, 1975, Sejarah Umat Islam, Jakarta:Bulan Bintang

H.A. Syafi’i, 1992, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Bandung: Armico

Hasan Ibrahim Hasan, 2009, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta:Kalam Mulia

Listiawati Susanti, 2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru: Suska Press

Muhammad Husain Haekal, 1993, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera Antarnusa, Cet. 16

Mahmudunnasir, 2005, Islam Konsepsi dan Sejarahnya (Terj. Adang Afandi), Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet. V

Moenawar Chalil, 2006, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta:Gema Insani

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, 2006, Sirah Nabawiyah:AnalisiS Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw, (Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tahmid), Jakarta:Robbani Press, Cet. 17

Mahmud Yunus, 1990, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Hidakarya Agung

Raghib As-Sirjani, 2013, Ensiklopedi Sejarah Islam, (Terj. M. Taufik & Ali Nurdin), Jakarta: Pustaka Al-Katsar

Shafiyyur Rahman Al- Mubarakfury, 2010, Sejarah Hidup Muhammad, (Terj. Rahmat), Jakarta: Robbani Press 

Syamruddin Nasution, 2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru:Yayasan Pusaka Riau

Samsul Nizar, 2008, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana

Wahyu Ilaihi, Harjani Hefni. 2007, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana




[1]HAMKA, 1975, Sejarah Umat Islam, Jakarta:Bulan Bintang, h. 144 


[2]Muhammad Husain Haekal, 1993, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera Antarnusa, Cet. 16, h.56 


[3]Mahmudunnasir, 2005, Islam Konsepsi dan Sejarahnya (Terj. Adang Afandi), Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet. V, h. 90 


[4]Badri Yatim, 2006, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, h. 18 


[5]Abuddin Nata, 2011, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana, hh. 54-55 


[6] Moenawar Chalil, 2006, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta:Gema Insani, h. 39 


[7]Badri Yatim, op. cit., hh. 12-16 


[8]Wahyu Ilaihi, Harjani Hefni. 2007, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana,h. 46 


[9]Ibid., h. 47 


[10]Mahmud Yunus, 1990, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Hidakarya Agung, h. 11 


[11]H.A. Syafi’i, 1992, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Bandung: Armico, h. 47 


[12]Hasan Ibrahim Hasan, 2009, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta:Kalam Mulia, h. 148 


[13]Shafiyyur Rahman Al- Mubarakfury, 2010, Sejarah Hidup Muhammad, (Terj. Rahmat), Jakarta: Robbani Press, h. 94 


[14]Raghib As-Sirjani, 2013, Ensiklopedi Sejarah Islam, (Terj. M. Taufik & Ali Nurdin), Jakarta: Pustaka Al-Katsar, h.12 




[15] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, 2006, Sirah Nabawiyah:AnalisiS Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw, (Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tahmid), Jakarta:Robbani Press, Cet. 17, h. 84 


[16]Listiawati Susanti, 2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru: Suska Press, h. 16 


[17]Syamruddin Nasution, 2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru:Yayasan Pusaka Riau, h. 36 


[18]Ibid., hh. 37-38 


[19]Samsul Nizar, 2008, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana, hh. 34-37