Delapan Kejadian Penting di Penjuru Dunia Sepanjang 2015


Delapan Kejadian Penting di Penjuru Dunia Sepanjang 2015

Sejumlah peristiwa penting terjadi di berbagai penjuru dunia sepanjang tahun 2015. Redaksi VIVA
mencatat beberapa diantaranya yang menarik perhatian besar:

1. Penyerangan di kantor redaksi majalah Charlie Hebdo
Awal 2015 diwarnai dengan aksi kekerasan oleh kelompok militan. Kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis, diberondong tembakan oleh dua orang pelaku. 11 orang tewas, termasuk pemimpin redaksi majalah tersebut.
Majalah ini terkenal sebagai majalah satire. Mereka kerap menampilkan sikap sinis, dan terkesan melecehkan, pada agama apa pun. Berulang kali majalah ini menggambar wajah Nabi Muhammad, hal yang dilarang dalam keyakinan Islam, juga menampilkan tulisan sinis terhadap Muslim. Sebelum diserang, majalah ini menampilkan karikatur Abu Bakar al Baghdadi, pemimpin tertinggi kelompok militant ISIS.

2. Gempa Nepal
Sabtu, 25 April 2015, gempa bumi dengan kekuatan 7,8 Skala Richter mengguncang Nepal. Sebanyak 8.947 orang tewas akibat gempa tersebut. Ini menjadi gempa terburuk sepanjang tahun 2015, dengan jumlah korban yang sangat banyak dan bangunan yang hancur mencapai lebih dari 500 bangunan.
Gempa bumi juga membuat gumpalan salju di pegunungan Himalaya longsor. Banyak pendaki yang terjebak dan menjadi korban. Meski bantuan internasional berdatangan, namun negara yang terkenal dengan nilai-nilai timurnya itu butuh upaya yang besar untuk kembali pulih.

3. Tragedi Mina
Prosesi ibadah haji 2015 diwarnai dengan dua insiden. Pertama, adalah jatuhnya crane di Masjidil Haram. Akibat jatuhnya alat berat ini, sekitar 127 jemaah tewas. Kedua, kerusuhan tragedi Mina. Prosesi melontar jumroh di Mina menelan korban.  Jemaah yang berdesak-desakan dan padat membuat jumlah korban melonjak.
Pemerintah Saudi, mengklaim jumlah korban mencapai 700 orang dari seluruh negara. Namun jumlah itu tak pernah berubah, bahkan hingga berbulan-bulan. Sebuah laporan yang disampaikan dua bulan setelah kejadian, menyebut jumlah korban yang jauh lebih banyak.
Berdasarkan investigasi dan laporan dari masing-masing negara yang kehilangan warganya, harusnya jumlah korban mencapai lebih dari 2.000 orang. Meski mengklaim telah melakukan investigasi, namun hingga saat ini tak pernah terdengar lagi laporan resmi dari pemerintah Saudi, berapa jumlah korban, dan apa penyebab terjadinya kerusuhan tersebut.

4. Pengungsi Suriah
Perang saudara yang tak kunjung usai di Suriah membuat warga negara tersebut memilih pergi meninggalkan negaranya. Badan Dunia PBB mencatat, sepanjang 2015, pengungsi Suriah yang memasuki Eropa mencapai jumlah hingga 1.000.537 jiwa.
Sebagian besar pengungsi nekat menyeberangi laut Mediterania dan bertaruh nyawa. Sekitar 3.700 orang menjadi korban keganasan laut. Badan PBB yang mengurus pengungsi, UNHCR, bahkan mengatakan, jumlah pengungsi tahun ini adalah jumlah pengungsi terburuk setelah Perang Dunia ke II.
Salah satu pengungsi yang menjadi korban keganasan laut Mediterania dan menarik simpati dunia adalah Aylan Kurdi. Bocah berusia empat tahun itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di pantai Turki. Ia masih mengenakan pakaian lengkap. Aylan, kakaknya, dan ibunya gagal mencapai mimpi mereka, menuju Eropa yang lebih damai dan menjanjikan harapan.

5. Pesawat Rusia Jatuh di Semenanjung Sinai
Pesawat penumpang Rusia, MetroJet Airbus A321 yang terbang dari kawasan wisata Sharm el-Sheikh di Mesir menuju St Petersburg,  Rusia, jatuh di Semenanjung Sinai. Seluruh penumpang dan kru tewas. Kelompok ISIS mengaku bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat tersebut.
Hasil penyelidikan membuktikan, ada sebuah ledakan yang terjadi di udara, hingga pesawat terbelah dua dan jatuh ke tanah. Dari 224 penumpang dan kru, hanya tiga orang warga negara Ukraina. Sisanya adalah warga Rusia.

6. Serangan Paris
Paris terus menjadi sasaran. Setelah serangan awal tahun terhadap kantor majalah Charlie Hebdo, pada Jumat malam, 13 November 2015, enam titik di kota Paris menjadi sasaran. Aksi penembakan dan bom bunuh diri terjadi dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Sebanyak 153 orang tewas, dan ratusan lainnya luka-luka. Presiden Prancis, Francois Hollande langsung mengeluarkan status gawat darurat untuk negaranya. Ia juga menutup semua pintu perbatasan. ISIS mengklaim bertanggungjawab atas serangan tersebut.

7. Ketegangan Rusia - Turki
Menjelang berakhirnya 2015, hubungan Rusia dan Turki berada dalam situasi tegang. Bermula dari sikap Turki yang menembak jatuh pesawat jet tempur milik Rusia, Sukhoi Su-24. Turki mengklaim pesawat tersebut telah melanggar batas udara Turki, namun Rusia bersikukuh, pesawat tersebut masih berada dalam batas wilayah Suriah. Satu pilot pesawat tersebut tewas, sedangkan satu lainnya selamat.
Rusia yang marah menjatuhkan sanksi ekonomi, termasuk menolak impor dan membatalkan pasokan gas alam untuk Turki. Rusia juga melarang warganya mendatangi Turki, bahkan kedatangan Menlu Rusia yang sudah dijadwal, juga dibatalkan.
Tensi sempat meningkat antara Rusia dan Turki. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, terlibat dalam konflik perang suara. Keduanya saling ejek, dan saling tuding. Kotak hitam pesawat yang ditemukan kini masih dalam penyelidikan. Rusia mengajak Inggris untuk bantu meneliti isi kotak hitam. Belum ada hasil yang jelas, namun Rusia dan Turki kini terlibat ‘perang dingin.’
8. Konferensi Perubahan Iklim COP-21
Sebanyak 195 negara peserta KTT Perubahan Iklim PBB atau COP di Paris, Perancis , akhirnya mengeluarkan Kesepakatan Paris (Paris Agreement). Kesepakatan ini menjadi pengganti Protokol Kyoto untuk memerangi dampak perubahan iklim.
Ada lima hal penting yang disepakati, Pertama, upaya mitigasi dengan cara mengurangi emisi dengan cepat. Hal ini dilakukan untuk mencapai ambang batas kenaikan suhu bumi yang disepakati, yakni di bawah dua derajat celsius dan diupayakan ditekan hingga 1,5 derajat celsius.
Kedua, menjalankan sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi secara transparan. Ketiga, upaya adaptasi dengan memperkuat kemampuan negara-negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim, dari kerusakan.
Kelima bantuan pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan.
COP 21 dianggap sebagai momentum penting untuk menghadapi perubahan iklim yang dampaknya sudah semakin terasa diberbagai belahan dunia. Meningkatnya bencana alam menjadi salah satu indikasi perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan./viva.co.id