Islamofobia di AS meningkat tiga kali lipat

CALIFORNIA  Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme di California State University di San Bernardino merilis sebuah studi yang menunjukkan bahwa kasus Islamofobia meningkat tiga kali lipat sejak serangan di Paris dan San Bernardino. Angka ini mencapai tingkat yang tidak pernah dijumpai setelah serangan 11 September 2001, lansir IBTimes(19/12/2015).

Brian Levin, kriminolog dari California State Unierisity mengatakan kepadaNew York Times bahwa serangkaian serangan telah membuat orang berani untuk betindak atas ketakutan dan kemarahan.

Dalam laporan lain yang dirilis pekan ini oleh Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), telah ada 29 serangan terhadap asjid di Amerika Serikat tahun ini, ini merupakan jumlah tertinggi sejak CAIR mulai melacak insiden tersebut pada tahun 2009. Serangan termasuk vandalisme, kerusakan properti, penganiayaan, dan intimidasi. Menurut CAIR, lonjakan paling signifikan terjadi pada bulan Noveber dengan total 17 kasus.

Juru bicara CAIR, Ibrahim Hooper, mengatakan bahwa lingkungan anti-Muslim didorong dan dimanfaatkan oleh tokoh masyarakat seperti Donald Trump, Ben Carson, Rick Santorum, dan lain-lain.

Linda Sarsour, seorang aktivis Muslim dari Brooklyn, katanya meminta orang tua Muslim di seluru negeri untuk tidak menonton debat presiden dari Partai Republik di depan anak-anak mereka karena dampak psikologis negatif yang bisa terjadi pada anak-anak.

Beberapa Muslim telah berusaha untuk menjagkau komunitas lokal mereka dalam upaya untuk menciptakan kesadaran dan menunjukkan bahwa mereka loyal dan cinta damai. Setelah Masjid Baitussalaam di Hawhtrone, California dirusak pda pekan lalu, diadakan open house Jumat bagi warga lokal untuk mengunjungi dan melihat bagaimana Muslim beribadah.

Muslim lainnya juga membuat pelatihan tentang bagaimana menanggapi serangan. The Islamic Speaker Bureau (ISB) di Atlanta mengadakan pelatihan untuk siswa sekolah menengah dan tinggi, mengajarkan bagaimana untuk menanggapi jika mereka dilecehkan atau diserang.

Asif Saberi, anggota ISB, mengatakan pada Atlanta Journal-Constitution, bahwa ia melihat para siswa memiliki beban besar untuk melakukan pertahanan terutama anak perempuan yang berhijab.

Namun, banyak dari Muslim Amerika telah menyatakan harapan, optimisme, dan bersikeras tidak akan melepas identitas mereka.

“Saya banga menjadi seorang Muslim, dan saya bangga menjadi orang Amerika,” kata salah satu dari mereka. “Tidak ada yang akan mengambil itu dariku.”
(fath/arrahmah.com)