KONSEP PENDIDIKAN ISLAM K.H. AHMAD DAHLAN (1868-1923M)


KONSEP PENDIDIKAN ISLAM K.H. AHMAD DAHLAN (1868-1923M)

Hasil gambar untuk konsep pendidikan islam menurut kh ahmad dahlan

K.H. AHMAD DAHLAN (1868-1923M)
TAWARAN BARU TENTANG METODE PEMBELAJARAN

I. PENDAHULUAN
K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang pahlawan nasional yang banyak memberikan konstribusi pada dunia pendidikan Islam di Indonesia ini. Ia seorang da’i sekaligus organisatoris Islam yang mampu mewujudkan suatu sistem lembaga Islam yang terpadu yang hasilnya kini dikembangkan terus oleh para generasinya.
Nama Ahmad Dahlan bukanlah nama yang asing dalam dunia pendidikan, ia lebih banyak dikenal orang sebagai pendakwah atau pembaharu sosial budaya di Indonesia. Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri, ia telah memberikan nilai-nilai yang berharga pada pendidikan Islam agar dapat selangkah lebih maju dengan orang-orang Eropa, contohnya dengan lahirnya lembaga pendidikan Muhammadiyah yang sampai saat ini tetap exist dan qualified.
II. RIWAYAT HIDUP K.H. AHMAD DAHLAN
K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1868 dalam sebuah keluarga yang shaleh dan tinggal dalam atmosfer religius yang kental. Sumber lain menyebutkan bahwa Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 dengan nama Muhammad Darwis, anak seorang kyai Haji Abu Bakar Bin Kyai Sulaiman, seorang Khatib di Masjid Sultan kota tersebut, dan ibunya adalah anak Haji Ibrahim, seorang penghulu.
Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di pesantren Yogyakarta, ia melanjutkan studinya ke Mekkah. Disinilah ia menemukan tulisan-tulisan pembaharu muslim, yaitu: Al-Afghani, dan Syaikh Muhammad Abduh di Mesir.
Ketika ia berada di Mekkah, ia membuat suatu terobosan baru dengan membuat tanda shaf dalam masjid agung dengan memakai kapur, tanda yang ia berikan itu bertujuan untuk memberikan arah kiblat yang benar dalam masjid. Namun hal itu mendapat perlawanan dari petugas masjid setempat, dan dengan cepat membersihkan lantai masjid dan tanda shaf yang dituliskan oleh Dahlan.
Sekembalinya dari mekkah, ia memberikan pengajaran di beberapa sekolah (pesantren). Ia mengajar ke beberapa kota sambil menawarkan penjualan batiknya kepada setiap orang. Hal ini dilakukan guna membantu kesulitan orang tuanya.
Adapun sebagai Ulama Islam, ia merupakan seseorang yang memiliki otak brilian dan jiwa toleran yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pribadinya yang memberikan perhatian utamanya pada kehidupan religius, ketidakefesienan pendidikan agama, aktifitas misionaris kristen dan sikap anti agama dari kaum cerdik pandai. Dari sinilah ia disebut sebagai pemimpin yang memiliki komitmen yang tinggi kepada sikap moderat dan toleransi agama.
Pada tanggal 1 Desember 1911, Ahmad Dahlan mendirikan sebuah sekolah dasar dalam lingkungan Kraton Yogyakarta. Di sekolahan ini pelajaran umum diberikan oleh beberapa pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Inilah sekolah Islam swasta pertama yang mendapatkan subsidi dari pemerintah.
Dalam hubungan sosial, ia sangat aktif dalam segala usaha yang bertujuan membangun pendidikan bagi masyarakat. Ia pernah menjadi anggota Budi Utomo cabang Yogyakarta pada tahun 1908 dan menjadi pimpinannya. Sebagian besar dari anggota kelompok ini adalah dari kelompok priyayi dan hampir tidak ada ulama yang masuk menjadi anggotanya.
Dalam mewujudkan dunia pendidikan Islam ini, ia lakukan bersamaan dengan kegiatan yang dilakukn oleh H.O.S. Cokroaminoto.Kalau Cokroaminoto lebih banyak menekankan tentang teori-teori politik dan sosiologi, maka Ahmad Dahlan lebih banyak memberikan penekanan pada ajaran-ajaran keagamaan Islam dilingkungan masyarakat.
Dari semua ini nampak, walau hanya sebagian saja, sosok kepribadian Ahmad Dahlan yang begitu dinamis, tolerir, dan mempunyai watak yang progresif dan konstruktif. Namun sayangnya tidak sempat menuliskan ide-ide dan harapan-harapan kepada kita dalam bentuk tulisan. Mugkin dikarenakan kesibukan dan keseriusan beliau di dalam mewujudkan aspek pendidikan dalam tataran praktis dan aplikatif, bukan teoritis-teoritis saja.
Tanpa disadari waktu olehnya, ia pun kembali kepada Tuhan, dengan ikhlas. Alau begitu jasa-jasa beliau masih dikenang sampai saat ini, khususnya dalam dunia pendidikan, dengan lahirnya lembaga pendidikan Muhammadiyah.


PEMBAHARUAN PENDIDIKAN
DALAM PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN
I. LATAR BELAKANG KEHIDUPAN DAN PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN

Secara tradisional, seseorang akan dipengaruhi faktor geografis yang menunjukkan bahwa latar belakang sosial berpengaruh terhadap proses pendewasaannya. Kampung Kauman sebagai termpat kelahiran Darwis terkenal sebagai daerah lingkungan santri. Dahlan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Kauman, dan oleh karena itu ia sangat dipengaruhi oleh tradisi sosial daerah tersebut. Pengaruh itu nampak dari kebiasaan-kebiasaannya yang ulet dalam memperdalam pengetahuan keagamaan. Darwis sejak kecil tidak dididik pada lembaga pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena barang siapa yang memasukkan anaknya ke sekolah tersebut akan dianggap sebagai orang kafir, karena telah memasuki pola kehidupan kafir Belanda. Sebagai alternatif, ia dididik melalui cara pengajian, kemudian oleh ayahnya ia dikirim untuk belajar pada beberapa guru mengaji yang lain. Pada masa itu (abad 19) menurut Steer Brink ada 5 kategori guru: guru ngaji qur’an, guru kitab, guru tarekat, guru ilmu ghaib, dan guru yang tidak menetap di suatu tempat.
Adapun kitab yang dipelajari oleh Darwis adalah kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu fiqh, ilmu nawu, ilmu falaq, qira’ah dan ilmu hadits, sehingga ia dianggap menguasai dasar-dasar pemikiran keilmuan yang sesuai dengan sistem pengetahuan. Pada tahun 1890 ia dikirim ayahnya ke Mekkah untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam.
Ahmad Dahlan diakui sebagai salah seorang tokoh pembaharuan dan pergerakan Islam di indonesia, antara lain karena ia berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam dengan pendekatan-pendekatan yang lebih modern, dan banyaknya pengalaman keislaman masyarakat yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan al-Hadits.
Sebelum mendirikan Muhammadiyah, beliau telah berjuang dalam perkumpulan Jam’iyyah al-Khair, Budi Utomo dan Syarekat Islam. Ia termasuk salah seorang ulama yang mula-mula mengajar agama Islam di sekoah negeri, seperti sekolah guru (Kweekschool) di Jetis Yogyakarta dan Mosvia di Magelang.
Puncak dari kegiatan dan perjuangan beliau ialah dengan mendirikan Muhammadiyah. Ketika Muhammadiyah didirikan untuk pertama kalinya, sesungguhnya di Yogyakarta telah berdiri perkumpulan-perkumpulan atau pengajian yang bermacam-macam, seperti: Ikhwanul Muslimin, Priyo Utomo, Taqwimuddin, Syarikat Muhtadi, Walfajri, dan sebagainya.
Atas ide yang diberikan K.H.Ahmad Dahlan, maka akhirnya perkumpulan-perkumpulan diatas banyak yang meleburkan dirinya ke dalam Muhammadiyyah sebagai ranting-rantingnya, demikian juga perkumpulan-perkumpulan agama di luar Jawa tidak ketinggalan untuk ikut bergabung.
Adapun tujuan beliau mendirikan organisasi ini adalah untuk membebaskan umat Islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupannya, dan praktek-praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam.
II. GAGASAN PEMBAHARUAN DAN PERJUANGAN DAHLAN
Pada tahun 1890 ayah Dahlan meninggal dunia, kemudian oleh Sultan Hamengkubuwono VII Dahlan diangkat sebagai pengganti kedudukan ayahnya menjadi khatib di masjid agung Kauman Yogyakarta. Setelah ia duduk sebagai abdi dalem, oleh para teman seprofesi dan para kyai Dahlan diberi gelar Ketib Amin, artinya ketib yang dapat dipercaya.
Gelar tersebut mencerminkan suatu proses pendidikan dirinya dengan dorongan apa yang disebutkan David C.MC.Clelland. Need for achievement, yaitu cara berpikir tertentu yang kurang lebih sangat jarang dijumpai, akan tetapi apabila ada pada diri seseorang, cenderung menyebabkan orang itu bertingkah laku giat. Hal ini berdampak pada penyebaran gagasan-gagasannya, meskipun gagasan tersebut tidak cocok dengan pemikiran keagamaan yang hidup di daerah Yogyakarta.
Gagasan Dahlan yang berbeda dengan pemikiran masyarakat zamannya mempunyai landasan pemikiran yang prinsipil dipandang dari sudut filsafat ilmu.
III. PEMIKIRAN PENDIDIKAN K.H.AHMAD DAHLAN
K.H. Ahmad Dahlan adalah tokoh yang tidak banyak meninggalkan tulisan. Beliau lebih menampilkan sosoknya sebagai manusia amal atau praktisi daripada filosof yang banyak melahirkan pemikiran dan gagasan-gagasan tetapi sedikit amal.Sekalipun demikian tidak berarti bahwa K.H.Ahmad Dahlan tidak memiliki gagasan. Amal usaha Muhammadiyyah merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Istilah pendidikan disini dipergunakan dalam konteks yang luas tidak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari generasi terdahulu kepada generasi muda. Dalam konteks ini termasuk dalam pengertian pendidikan adalah kegiatan pengajian, tablig, dan sejenisnya.
1. Tujuan Pendidikan
K.H. Ahmad Dahlan tidak secara khusus menyebutkan tujuan pendidikan. Tetapi dari pernyataannya yang disampaikannya dalam berbagai kesempatan, tujuan pendidikan K.H. Ahmad Dahlan adalah “Dadijo Kijahi sing kemadjoean, adja kesel anggonmu njamboet gawe kanggo moehammadijah”.
Dalam pernyataan sederhana tersebut, terdapat beberapa hal penting yaitu Kijahi, kemadjoean, dan njamboet gawe kanggo moehammadijah.
Istilah Kiai merupakan sosok yang sangat menguasai ilmu agama. Dalam masyarakat Jawa, seorang kiai adalah figur yang sholeh, berakhlak mulia, dan menguasai ilmu agama secara mendalam.
Istilah Kemajuan secara khusus menunjuk kepada kemodernan sebagai lawan dari kekolotan dan konservatisme. Pada masa K.H.Ahmad Dahlan, kemajuan sering diidentikkan dengan penguasaan ilmu-ilmu umum atau intelektualitas dan kemajuan secara material. Sedangkan kata njamboet gawe kanggo moehammaddijah merupakan manifestasi dari keteguhan dan komitmen untuk membantu dan mencurahkan pikiran dan tenaga untuk kemajuan umat Islam pada khususnya, dan kemajuan masyarakat pada umumnya.
Berdasarkan pemahaman tersebut, tujuan pendidikan menurut K.H Ahmad Dahlan adalah untuk membentuk manusia yang :
a. Alim dalam ilmu agama.
b. Berpandangan luas, dengan memiliki pengetahuan umum.
c. Siap berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyyah dalam menyantuni nilai-nilai keutamaan dalam masyarakat.
Rumusan tujuan pendidikan tersebut merupakan “pembaharuan” dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendididkan pesantren hanya bertujuan untuk menciptakan individu yang sholeh dan mendalami ilmu agama. Sebaliknya pendidikan model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang di dalamnya tdak diajarkan agama sama sekali. Pelajaran di sekolah ini menggunakan huruf latin. Akibat dualisme pendidikan tersebut, lahirlah dua kutub intelegensia: lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu umum, dan lulusan sekolah Belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu agama.
Melihat ketimpangan tersebut, beliau berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh: menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spiritual, serta dunia dan akhirat. Baginya kedua hal tersebut merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
2. Materi Pendidikan
Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut, K.H.Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
a. Pendidikan moral,akhlaq, yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.
b. Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh, yang berkeseimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, antara keyakinan dan intelek, antara perasaan dan akal pikiran serta antara dunia dan akhirat.
c. Pendidikan kemasyarakatan, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
Meskipun demikian, K.H.Ahmad Dahlan belum memiliki konsep kurikulum dan materi pelajaran yang baku. Muatan kurikulum pelajaran agama menurut K.H.Ahmad Dahlan bisa dilihat dari materi pelajaran agama yang diajarkannya dalam pengajian-pengajian di madrasah dan pondok Muhammadiyyah. K.R.H Hajid, salah seorang muridnya mengumpulkan ajaran gurunya ke dalam sebuah buku berjudul “Ajaran K.H.A. Dahlan” dan 17 kelompok ayat-ayat al-Qur’an yang merupakan catatan pribadinya selama mengikuti pelajaran agama.
Sejalan dengan ide pembaharuannya, K.H.Ahmad Dahlan adalah seorang pendidik yang sangat menghargai dan menekankan pendidikan akal.Dia berpendapat bahwa akal merupakan sumber pengetahuan. Tetapi seringkali akal tidak mendapatkan perhatian yang semestinya.Karena itulah maka pendidikan harus memberikan siraman dan bimbingan yang sedemikian rupa sehingga akal manusia dapat berkembang dengan baik. Untuk mengembangkan pendidikan akal, beliau menganjurkan diberikannya pelajaran ilmu mantiq di lembaga-lembaga pendidikan.


3. Metode Mengajar
Di dalam menyampaikan pelajaran agama, K.H Ahmad Dahlan tidak menggunakan pendekatan yang tekstual tetapi kontekstual.
Disamping menggunakan penafsiran yang kontekstual, beliau berpendapat bahwa pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi. Gagasan Ahmad Dahlan tentang “Pembumian” ajaran al-Qur’an tersebut antara lain tercermin dalam pengajaran surat Al-Ma’un yang dalam perkembangannya melahirkan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umat (MPKU).
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, K.H.Ahmad Dahlan melakukan dua langkah strategis yaitu dengan mengajarkan pelajaran agama ekstrakurikuler di sekolah gubernemen.
Sistem penyelenggaraan dan kurikulum sekolah Muhammadiyyah yang didirikannya memiliki dua perbedaan mendasar dengan sekolah dan lembaga pendidikan pada umumnya.
Dilihat dari segi kurikulum, sekolah tersebut mengajarkan tidak hanya ilmu umum tetapi juga ilmu agama sekaligus. Hal ini merupakan terobosan baru mengingat pada saat itu lembaga pendidikan umum (sekolah) hanya mengajarkan pelajaran umum dan sebaliknya, lembaga pendidikan agama (pesantren) hanya mengajarkan pelajaran agama. Dengan kurikulum tersebut,Ahmad Dahlan berusaha membentuk individu yang “utuh” dengan memberikan pelajaran agama dan umum sekaligus.
Dilihat dari sistem penyelenggaraannya, sekolah tersebut meniru sistem persekolahan model Belanda. Dalam mengajar beliau menggunakan kapur, papan tulis, meja, kursi, dan peralatan lain sebagaimana lazimnya sekolah Belanda. Berkaitan dengan langkah tersebut, beliau berpendapat bahwa untuk memajukan pendidikan diperlukan cara-cara sebagaimana yang digunakan dalam sekolah yang maju. Meniru model penyelenggaraan sekolah tidak berarti mengabaikan ajaran agama sebab penyelenggaraan sistem pendidikan merupakan wilayah muamalah yang harus ditentukan dan dikembangkan sendiri./teratakhijau11