Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibn Khaldun


Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibn Khaldun








Nama lengkapnya Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Bakar…bin Khaldun Al-Hadlramy At-Tunisy yang mendapat gelar “Waliyuddin”, dari keturunan Hadlralmaut Yaman. Nenek moyangnya pada abad ke-3 Hijriah pindah ke Andalusia dan menetap di Sevilla, kemudian pada abad ke-7 keluarganya pindah ke Tunis.Ibn Khaldun lahir dalam lingkungan keluarga terhormat, sebagian besar kelaurganya menjabat dalam jabarat-jabatan politik, dan sebgian lagi mengabdi dalam bidang keilmuan, sehingga sejak kecil Ibn Khaldun sudah berada di tengah-tengah lingkungan politik dan ilmu pengetahuan.

Sebagaimaan penuturan Ibn Khaldun sendiri, terdapat dua nama guru yang berjasa besar atas kemajuan dan perkembangan keilmuannya di bidang agama, bahasa, dan filsafat. Nama pertama adalah Muhamamd Ibnu Abd Al-Muhaimin Al-Hadhrami, tokoh garda depan ulama hadits dan nahwu di MAghrib. Dari beliau, Ibnu Khaldun mengambil hadits, belajar ilmu mustholah hadits, sejarah kehidupan Nabi dan ilmu-ilmu kebahasaan. Adapun nama kedua adalah Abu Abdillah Muhamamd Ibnu Ibrahim Al-Abili, pakar ilmu-ilmu rasional yang meliputi logika, metafisika, ilmu alam, astronomi dan musik.[1]

Ibnu Khaldun pernah menjadi pengajar fikih madzhab Maliki di madrasah Qamhiyyah, madrasah yang diprakarsai oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.Madrasah ini sengaja didirikan untuk mengajarkan fikih madzhab Maliki. Di depan halaman madrasah ditanam buah gandum (qamh), inilah yang melatarbelakangi penamaan madrasah dengan madrasah Qamhiyyah.[2]

Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun dalam masalah pendidikan tertuang dalam karya besarnya,Muqaddimah pada bab VI yang terdiri dari 50 pasal, yang antara lain sebagi berikut:

1) Pembagian Ilmu

Menurut Ibnu Khaldun Ilmu itu ada dua macam; pertama ilmu yang menjadi tujuan (ulumun maqsudan bidzatiha) seperti ilmu-ilmu syariah dan kedua ilmu alat atau pelantara untuk memahami ilmu pertama, seperti ilmu bahasa, ilmu hitung, ilmu ushul fiqh, ilmu logika dan lain-lain.

2) Tujuan Pendidikan Islam

Ibnu Khaldun mengatakan:”Tujuan pendidikan Islam adalah dapat menanamkan keyakinan imaniyah di dalam hati/jiwa peserta didik, menginternalisasi nilai-nilai moral yang luhur melalui nilai-nilai agama sehingga mampu member pencerahan jiwa, penguatan moral dan memotivasi prilaku yang baik”

Ibnu Khaldun juga mengatakan tujuan pendidikan Islam secara praktis adalah: Memberi peluang kepada peserta didik mampu berpikir untuk berbuat dengan benar, member peluang kepada peserta didik untuk dapat hidup berkualitas di dalam masyarakat yang maju, memberikan kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan sebagai sumber penghasilan dan dapat mengembangkan perilaku yang terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Kesemuanya harus dikembangkan melalui pendidikan yang berasaskan ajaran dan nilai-nilai Qur’ani

3) Sumber Ilmu

Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu yang ada di tengah-tengah masyarakat sumbernya dari dua jalur: Pertamaal-Ulum an-Naqliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh manusia secara berantai dan akhirnya berujung pada penerima ilmu tersebut dari sumber pokoknya, yaitu Tuhan dengan melalui wahyu. Ini yang dimaksud ilmu agama yang akal manusia tidak mempunyai banyak otorita dalam ilmu tersebt kecuali terbatas kepada penafsiran dan dalam aplikaisnya tetapi tidka dapat merubah atau menggantikannya.Kedua al-Ulum al-Aqliyah, yang diperoleh manusia melalui kemampuan nalarnya dan kekuatan akalnya, seperti ilmu-ilmu pengetahuan alam, ilmu kedokteran, logika dan filsafat.

4) Pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap

Pendidikan terhadap anak supaya berlangsung secara bertahap, dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi, sejalan dengan kesiapan peserta didik dan kemampuan akalnya. Maka proses pembelajaran satu bidnag studi harus dimulai dari penegrtian paling mendasar dan diberikan secara garis besarnya. Baru setelah peserta didik tersebut memahami dengan baik, dapat dilanjutkan dan dikembangkan lebih rinci dengan deferensi dan variabelnya, sehingga mereka dapat memahami bidang tersebut secara utuh dan mendasar.

5) Sikap guru

Ibnu Khaldun menganjurkan agar para guru bersikap dan berprilaku penuh kasih sayang kepada peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut dan saling pengertian, tidak menerapkan prilaku keras dan kasar sebab sikap demikian dapat membahayakan peserta didik, bahkan dapat merusak mental mereka. Peserta didik yang diperlakukan secara kasar akan berlaku bohong, malas, bicara kotor dan penuh kepura-puraan, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau takut dipukul.

Sikap-sikap demikian apabila berlangsung dalam waktu yang relative lama akan berubah menajdi tradisi dan watak yang tidka terpuji. Dan hal demikian bisa merusak arti kemanusiaan yang justru harus dikembangkan dalam proses balajar-mengajar.

Keteladanan guru merupakan keniscayaan dalam pendidikan, sebab peserta didik - menurut Ibnu Khaldun- lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada nasehat, pengajaran atau perintah. Dalam masalah ini Ibnu Khaldun meneladani perkataan Amru bin Utbah dalam pesannya kepada salah seorang guru yang mengajar putranya, “Mulailah dalam upayamu memperbaiki anakku, dengan lebih dulu memperbaiki sikap dan prilakumu sendiri. Sebab pandangan anak-anak itu terikat pada pandanganmu, maka apa yang engkau lakukan akan dianggap baik bagi mereka, dan apa yang engkau tinggalkan akan dianggap jelek bagi mereka.”

6) Kemajuan Pendidikan Tidak Terlepas dari Kemajuan Ekonomi dan Peradaban

Ibnu Khaldun berkata,”Ilmu-ilmu itu bertambah banayk sejalan denagn besarnya kemakmuran dan tingginya tingkat peradaban”. Sebagai seorang yang pengalaman dalam bidang pemerintahan dan mendalami masalah sosiologi, Ibnu Khaldun berulang kali mengatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan Islam adalah meningkatkan kualitas hidup, disamping meningkatkan kualitas iman dan ketaatan, kualitas nalar, kualitas moral dan kulitas kerja./http://santrinulis.com




[1]Said Ismail Ali, Pelopor Pendidikan Islam Paling Berpengaruh, hal. 60-61


[2] Ibid, hal.63