Wahai Orangtua, Ajari Anak Pilih Jajanan agar Terhindar dari Tujuh Zat Berbahaya Ini


Ilustrasi: Jajanan yang Berbahaya Bagi Kesehatan Anak
Seperti halnya makanan utama, mestinya jajanan anak haruslah memenuhi standar kesehatan. Tapi, kenyataannya tak selalu demikian.

Selama bertahun-tahun, keberadaan zat aditif berbahaya dalam makanan yang biasa dikonsumsi anak-anak, mulai dari pewarna hingga lemak trans, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orangtua. 

Untuk membantu mengenali jajanan yang sangat berbahaya bagi kesehatan, inilah tujuh zat aditif yang sering terkandung dalam jajanan anak-anak. 

1. Pewarna buatan

Pewarna buatan adalah senyawa kimia yang dibuat dan digunakan untuk makanan dan minuman. Banyak makanan dan minuman kemasan yang mengandung bahan ini. Kumpulan hasil beberapa penelitian yang dilakukan European Food Standards Agency  di Inggris menyatakan, bahwa pewarna buatan dapat memicu hiperaktivitas pada anak. Pewarna kuning no. 5 menurut FDA atau Badan Administrasi Obat dan Makanan Amerika Serikat, dapat memperburuk gejala asma. Sedangkan pewarna merah no. 2  dapat menyebabkan kanker.

2. Sirup jagung tinggi fruktosa

Sirup jagung tinggi fruktosa adalah pemanis tambahan yang terbuat dari jagung. Rasanya lebih manis dan harganya lebih murah dari sukrosa. Pemanis ini sangat umum ada di berbagai makanan dan minuman kemasan. Kebanyakan minuman ringan dan soda nondiet mengandung pemanisfruktosa. Beberapa ahli mengatakan, bahwa sirup jagung fruktosa ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe-2 dan obesitas. Umumnya, pemakaian sirup jagung fruktosa dalam makanan dan minuman adalah 55-58% fruktosa dan 42-45% glukosa. Sedangkan sukrosaadalah pemanis buatan yang terbuat dari fruktosa dan glukosa.

3. Aspartame

Aspartame adalah pemanis buatan yang dikenal dengan berbagai merk dagang. Aspartame biasa dipakai oleh minuman soda diet. Keamanan aspartame masih jadi perdebatan hingga sekarang. Ada penelitian yang mengatakan, aspartamediduga menyebabkan kanker. Ada juga penelitian yang menyebutkan aspartamedapat memicu leukimia. Studi lain mengatakan aspartame meningkatkan kasus tumor otak. 

4. Monosodium glutamate (MSG)

MSG adalah bentuk alami dari senyawaglutamate. Glutamate sendiri tidak memiliki rasa tapi dapat memperkuat rasa dari makanan atau senyawa lain. Tomat, susu kedelai, rumput laut adalah contoh makanan yang secara natural mengandung glutamate. MSG banyak digunakan sebagai penguat atau penyedap rasa masakan. Pada tahun 1960-an, banyak orang bereaksi keras terhadap kehadiran MSG. Mereka mengaku menderita berbagai keluhan kesehatan sesudah makan makanan yang mengandung MSG. Fenomena ini lalu disebut "Chinese restaurant syndrome". Peneliti menemukan, orang-orang cenderung mengalami gejala setelah mengonsumsi MSG kristal yang berdiri sendiri dibanding yang sudah dicampur ke masakan.

5. Sodium benzoat

Sodium benzoat adalah zat aditif yang digunakan sebagai pengawet makanan. Bersama dengan pewarna buatan, sodium benzoat diduga dapat memicu hiperaktivitas pada anak. Sodium benzoat di dalam minuman ringan yang dicampur vitamin C akan membentuk benzene, substansi pemicu kanker, menurut FDA.

6. Sodium nitrat

Sodium nitrat adalah zat aditif yang digunakan untuk mengawetkan daging, biasanya ditemukan dalam produk daging yang diawetkan, seperti sosis dan daging kalengan atau jajanan yang mengandung daging olahan. Penelitian mengatakan bahwa sodium nitrat memicu kanker lambung. Tahun kemarin, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis peringatan bahwa produk daging olahan dikonfirmasi sebagai penyebab berbagai jenis kanker.

7. BHA and BHT

Butylated hydroxyanisole (BHA) danButylated hydroxytoluene (BHT) adalah  pengawet yang digunakan untuk menjaga sereal tetap segar meski telah disimpan selama berbulan-bulan. BHA dan BHT juga ditemukan pada kacang, mentega, daging, dan permen karet. Meskipun FDA telah mengklasifikasikan BHA dan BHT sebagai "Generally Recognized as Safe” atau umumnya aman digunakan, tapi National Toxicology Program mengatakan kedua bahan kimia ini harus tetap diantisipasi dan bisa masuk dalam kelompokkarsinogen

Selain mengenal tujuh  jenis zat aditif berbahaya di atas, penting juga untuk memberitahu anak bahwa jajanan bisa dikatakan sehat jika jajanan bersih, tak terkena paparan debu dan dibungkus dengan kemasan yang benar. Contohnya, tidak dibungkus menggunakan koran dan makanan panas tidak dibungkus dengan plastik.

Efek dari jajanan tidak sehat bisa jangka pendek dan jangka panjang. Efek jangka pendeknya bisa menyebabkan diare. Sedangkan jajanan dengan pewarna, umumnya memberikan efek jangka panjang, yakni bisa menyebabkan kanker. Begitu juga penyedap rasa, efek jangka panjangnya bisa menimbulkan hipertensi.

Mengingat buruknya dampak yang diakibatkan oleh zat aditif tersebut bagi kesehatan, orangtua harus tahu makanan apa saja yang dijual, baik di dalam kantin sekolah maupun di luar  lingkungan sekolah.  Dengan demikian, orangtua bisa mengarahkan anak, makanan apa saja yang sehat dikonsumsi dan yang tidak.  Jika di rumah anak sudah dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, anak tak mudah tergoda untuk membeli jajanan yang aneh-aneh. 

Yang juga tak kalah penting, jadikan waktu makan anak di rumah sebagai momen edukasi, dengan selalu menyajikan makanan bergizi sesuai kebutuhan kalori setiap anggota keluarga, mulai dari protein, sayur-sayuran, dan buah. Harapannya, pola makan sehat ini akan menjadi bagian hidup anak hingga dewasa.(si)