YPI Al Azhar Tetapkan 1 Ramadhan Jatuh pada Senin 6 Juni 2016, 1 Syawal Jatuh pada Rabu 6 Juli 2016



Ketua Umum YPI Al Azhar M Suhadi (kedua dari kiri) didampingi Ketua Dewan Syariah Dr H Shobahussurur (kiri) dan pengurus YPI Al Azhar menyampaikan penetapan awal dan akhir Ramadhan 1437 H di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Rabu (27/04/2016

 

Jakarta (afdhalIlahi.com) - Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar menetapkan 1 Ramadhan 1437 H jatuh pada Senin, 6 Juni 2016. Sementara 1 Syawal 1437 H ditetapkan jatuh pada Rabu, 6 Juli 2016. 

Penetapan awal dan akhir Ramadhan 1437 H ini dilakukan sebagai wujud pelayanan dan informasi kepada jamaah di lingkungan YPI Al Azhar. 

"Penetapan ini dilakukan setelah YPI Al Azhar mengadakan Majelis Mudzakaroh dan dilanjutkan dengan rapat Pengurus, Pengawas dan Dewan Syariah Al Azhar serta Pengurus Takmir Masjid Agung Al Azhar, Rabu 27 April 2016," ungkap Ketua Umum YPI Al Azhar H. M Suhadi dalam konferensi pers di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al Azhar, Rabu siang (27/04/2016). 

Suhadi menjelaskan, pada Rabu pagi hingga dzuhur, Dewan Syariah Al Azhar telah menggelar Majelis Mudzakarah membahas awal dan akhir Ramadhan 1437 H. Majelis itu diikuti oleh perwakilan berbagai ormas Islam. Bertindak sebagai narasumber antara lain Kepala LAPAN dan pakar astronomi Prof Dr H Thomas Djamaluddin, Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H Susiknan Azhari, MA dan pakar ilmu falak UIN Walisongo sekaligus Lajnah Falakiyah PBNU Dr KH Slamet Hambali. 

Suhadi juga menepis anggapan bila pihaknya memiliki mazhab sendiri dalam penentuan ini. YPI Al Azhar, kata Suhadi, tetap akan menjadi perekat umat. "Kita kan melibatkan ormas-ormas Islam dalam kegiatan disini," tandasnya. 

Ketua Dewan Syariah YPI Al Azhar Dr H Shobahusurrur, MA menambahkan, dasar pentapan awal dan akhir Ramadhan yang digunakan adalah metode hisab. "Secaa perhitungan akan terjadi sampai keputusan itu," ungkapnya. 

Terkait kemungkinan adanya perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan nanti, Shobahusurur menjelaskan bahwa perbedaan itu merupakan suatu keniscayaan. Tetapi yang terpenting adalah sikap saling menghormati dan tidak menimbulkan keributan. "Kita harus saling menghargai perbedaan," tambahnya. 

Meski demikian dijelaskan untuk tahun ini berdasarkan perhitungan secara astronomi kemungkinan terjadi perbedaan sangatlah kecil. Artinya umat Islam Indonesia kemungkinan besar akan mengawali puasa Ramadhan dan berhari raya secara serentak./suaraislam