Terima Kasih Ibunda Ku

Terima Kasih Ibunda Ku


Ilustrasi. (fizgraphic.com)

 Tak akan ada habisnya jika berbicara tentang ibu. Ibu adalah napas segar bagiku, pahlawan sejati, pelipur lara yang selalu membuatku tenang. Berbagai cara telah Kau lakukan untuk menjagaku, membuatku bahagia, dan memastikanku tumbuh dengah baik dari kelahiranku sampai sekarang dan sampai nanti.

Lelah dan letih sudah jadi makananmu sehari-hari, tapi Kau tetap tersenyum menjalani tugas yang paling mulia di dunia ini sebagai seorang ibu. Sungguh murni kasih sayangmu yang tidak pernah mengharapkan balasan atas keringat yang bercucuran dari tubuhmu untuk membesarkanku.

Kau tidak pernah mengeluh ataupun keberatan membesarkan anak bungsumu yang kadang nakal ini. Semua masalah Kau hadapi walau kadang tangis membasahi pipimu, walau kadang perih terasa di hatimu.

Maafkan aku, Ibu. Aku sering melawanmu, mengacuhkan nasehatmu setelah semua perjuangan yang telah Kau lakukan untukku. Maafkan aku yang belum bisa membalas peluh yang Kau rasakan untuk membahagiakanku. Maafkan perbuatanku yang kadang mengecewakanmu.

Kadang aku terenyah ketika mengingat semua yang hidup pasti akan dipanggil oleh-Nya, ketika napasku atau napasmu terhenti, ketika aku harus berpisah denganmu. Entah siapa yang akan lebih dulu dipanggil oleh-Nya, tapi aku tidak bisa membayangkan jika harus berpisah denganmu, dengan orang yang paling berarti dalam hidupku. Aku berharap bisa tetap bersamamu baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Aku bersyukur telah dilahirkan dari seorang ibu yang luar biasa menyayangi anaknya dengan caranya sendiri. Tangis sedih dan haru bercampur jika aku mengingat masa-masa pahit yang telah ibu lalui. Sekarang ibu telah melewatinya dan telah berbahagia. Tetaplah berbahagia, walaupun aku harus mengorbankan segalanya untuk menjaga ibu tetap tersenyum. Terima kasih, Ibu, atas segalanya. (dakwatuna)