Ketika Cinta Bertajwid

Ketika Cinta Bertajwid


Ilustrasi

Bulan Ramadhan adalah sahrul Quran, bulan turunnya Alquran. Kaum muslimin di seluruh penjuru dunia berlomba-lomba dalam kebaikan melantunkan ayat-ayat suci Alquran, memperbanyak kuantitas, meningkatkan pula kualitas. 

Tak heran, suasana malam syahdu bulan Ramadhan membawa kita pada sejarah ribuan tahun yang lalu dimana Rasulullah Saw, para shahabatnya dan orang-orang shalih setelahnya, menikmati dan mengisi hari-hari penuh berkah dengan mencintai Alquran. Bahkan banyak para ahli hadits menghentikan dulu pelajaran-pelajaran haditsnya demi beralih kepada Alquran. 

Belum lagi bicara tentang keutamaan, kemuliaan dan pahala yang diberikan Allah Swt bagi para pembaca dan pentadabburnya. Allah Swt menjanjikan pahala di setiap satu huruf Alquran dengan 10 pahala/kebaikan bahkan lebih tak terhingga, sehingga dalam hitungan matematikanya manusia, seorang muslim yang membaca satu ayat saja, sudah bisa mendapatkan ratusan bahkan ribuan pahala. Bagaimana bila mereka membaca lebih dari satu juz dalam satu jam atau lebih dari lima juz dalam sehari? Subhanallah tentu mereka semua mendadak menjadi milliuner pahala kebaikan di bulan Alquran. 

Akan tetapi, ada satu hal yang sangat penting dan wajib diingat selain bicara kuantitas, jangan lupa fokus pada kualitas bacaan Alquran. Alangkah indahnya, jika sembari mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala dari membaca Alquran juga diiringi dengan keberkahannya. Berkah dalam arti kebaikannya semakin bertambah, bertambah dan bertambah, tidak malah sebaliknya. Bisakah keberkahannya berkurang atau bahkan justru bukan keberkahan yang didapatkan? 

Rasulullah Saw bersabda, yang artinya, “Banyak orang membaca Alquran, sedang Alquran (yang dibacanya) malah mengutuk orang tersebut.” Kenapa Alquran justru mengutuk pembacanya? padahal pahala yang ada di dalamnya sungguh sangat luar biasa. 

Paling tidak ada tiga keadaan, seperti yang dijelaskan oleh Maftuh Basthul birri, pengarang kitab Fathul Mannan dari Ponpes Lirboyo Kediri-Jawa Timur, (1) terkutuk karena ketika membacanya justru merusak bacaannya, (2) terkutuk ketika membacanya malah merubah makna ayat yang dibacanya, (3) terkutuk karena tidak mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Ketiga keadaan inilah yang menyebabkan Rasulullah Saw memberikan peringatan tegas, agar umatnya tidak kehilangan fokus pada kualitas bacaan Alqurannya. 

Bacalah Alquran sesuai aturan agar maknanya tidak berubah, agar hak-hak huruf Hijaiyahnya terpenuhi dan agar perintah mengamalkan ajarannya bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Laknat tersebut diatas hanya bisa dihindari ketika pembaca Alquran membacanya dengan tartil dan tajwid. Bukankah dalam Alquran sendiri telah memberikan jawabannya, “Dan bacalah Alquran dengan tartilan (QS. Al Muzammil [73]: 4).” 

Apa yang dimaksud tartilan? Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. memperjelas dengan mengatakan bahwa, “Tartil ialah memperbaiki bacaan huruf-huruf dan mengetahui perihal waqofnya (bagaimana caranya mewaqofkan dan dimana boleh waqof? dst.” Artinya membaca Alquran selain dengan tartilan juga dengan tajwid. 

Apa itu tajwid? Secara bahasa, tajwid bermakna memperbaiki, memperindah atau menyempurnakan, sedangkan menurut istilah, tajwid ialah membaca Alquran sesuai dengan makhroj-makhroj hurufnya, dan memberikan hak sifat-sifat hurufnya, seperti jahr, hams, syiddah, rokhowah, membaca dengan qolqolah, iqlab, ikhfa’, idhar, dan lain-lain. Maka dari itu, pentingnya dua hal ini, tartilan dan tajwid, akan menghindarkan pembaca dari laknat. Tak heran, sedari Rasulullah Saw, ijma’ shahabat hingga para ulama sepakat bahwa membaca Alquran dengan tajwidnya itu adalah wajib (fardlu ‘ain). 

Alla kulli hal, berbahagialah para pencinta Alquran, karena Rasulullah Saw memberi gelar sebagai sebaik-baik manusia bagi yang mau belajar Alquran sekaligus yang mengajarkannnya. Artinya bacalah Alquran sesuai dengan aturan yang telah diberikan, dengan tartil dan tajwid. Berikan hak-hak huruf Hijaiyah yang ada didalamnya dan juga sifat-sifat bacaannya dengan tepat tanpa ditambah atau dikurangi. Misalnya huruf qof dengan kaf; seakan-akan tempat keluarnya (makhorijul huruf) sama, yaitu berada di pangkal lidah, akan tetapi dengan belajar tajwid lebih dalam, kita akan tahu bahwa kedua huruf ini berbeda ‘pabriknya’, kaf terletak dibawah qof. Jangan juga salah baca salah satu ayat dalam surat al Fatihah, “iyyaka na’budu … iyyaka nasta’in” karena salah dalam membacanya, maka maknanya berubah total dan fatal akibatnya. Belum lagi, bagaimana dengan pelbagai macam hukum-hukum bacaannya; izdhar, idghom, ghunnah, dll, semua harus dipelajari semaksimal mungkin. 

Sesungguhnya, inilah yang diinginkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya, agar membaca Alquran senantiasa bernilai pahala dan berkah. Sehingga meningkatkan kualitas bacaan Alquran dengan terus menerus belajar tashiihul huruf (memperbaiki huruf) tentu lebih utama dari sekedar memperbanyak kuantitas dan cenderung abai terhadap hak-hak hurufnya. Dan jangan lupa, setelah selesai belajar dan mampu menguasainya maka kewajiban selanjutnya adalah mengarjarkan kepada yang lain, akan melengkapi kesempurnaan predikat kita sebagai sebaik-baik manusia.

Beruntunglah pula bagi para pencinta Alquran karena Umar bin Khattab r.a. meriwayatkan pesan Rasullullah Saw, bahwa sesungguhnya dengan Alquran, Allah Swt meninggikan derajat suatu kaum dan dengan Alquran pula merendahkan sebagian yang lain. Artinya kemuliaan umat manusia ada di dalam Alquran, sekali lagi tidak sekedar membacanya dan abai terhadap hak-haknya, akan tetapi benar-benar membaca dengan penuh keadilan pada setiap huruf-hurufnya. Kecintaan terhadap Alquran dan semua tata aturan di dalamnya pasti membawa pada kemuliaan dan derajat yang lebih tinggi, sebaliknya abai terhadapnya (termasuk menganggap remeh temeh urusan tajwid) akan merendahkan manusia pada posisi yang paling hina. 

Oleh karenanya, ketika kita cinta Alquran, maka Alquran pun akan mencintai kita. Bukti cinta kita kepada Alquran adalah dengan memperlakukannya sebagaimana mestinya, sebagaimana aturannya, sebagaimana tuntunan yang diberikan para ulama, tidak sembarangan, tidak korupsi bacaan dan tidak seenak mulut pembacanya. Jangan pernah lagi menganggap sepele belajar tajwid, meski terlihat mudah, faktanya tidaklah semudah yang dibayangkan. Yang anak-anak hingga yang tua sekalipun wajib memperlajarinya. Ketika rindu dan cinta kita pada Alquran, ketika itu pula cinta kita bertajwid padanya.

Eka Sugeng Ariadi

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
Sourche: sourche: suaraislam 

0 Response to "Ketika Cinta Bertajwid"

Post a Comment