PENDIDIKAN ISLAM DIMASA SAHABAT

PENDIDIKAN ISLAM DIMASA SAHABAT
                    
                 Mempelajari Sejarah Pendidikan Islam sangat penting, bahkan wajib dipelajari terutama bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam maupun orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Karena dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam ini kita dapat mengetahui bagaimana asal mula pendidikan Islam ini berkembang, serta bagaimana cara mendidik dan mengajarkannya. Khususnya pendidikan Islam pada zaman nabi Muhammad SAW dan Para sahabatnya yang merupakan perintis pendidikan Islam di bumi ini. Karena kita tahu bahwasanya nabi Muhammad adalah paling utama-utamanya pendidik di bumi.
Sebagai umat islam, hendaknya kita mengetahui sejarah guna menumbuhkembangkan wawasan generasi mendatang di dalam pengetahuan sejarah tersebut, serta sebagai landasan kita didalam memperdalambidang pendidikan Islam.  Sejarah Pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW terdapat dua periode. Yaitu periode Makkah dan periode Madinah.Pada periode Makkah, Nabi Muhammad lebih menitik beratkan pembinaan moral, akhlak serta tauhid kepada masyarakat Arab yang bermukim di Makkah dan pada peroide di Madinah Nabi Muhammad SAW melakukan pembinaan di bidang sosial politik. Disinilah pendidikan islam berkembang pesat.
         Setelah Nabi Muhammad Saw wafat kepemimpinan sekaligus pembinaan pendidikan islam dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya yang terkenal dengan sebutan Khulafaur Rosyidin. Pada zaman khulafau al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkan Al-Qur’an dan Sunnah.
         Sistem pendidikan islam pada masa khulafau al-Rasyidin dilakukan secara mandiri,tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin al-khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab.
Khulafaur Rasyidin adalah para kholifah yang arif dan bijaksana. Mereka adalah keempat sahabat yang terpilih menjadi pemimpin kaum muslim setelah Nab Muhammad Rasulullah saw. wafat.
Keempat kholifah itu selain berhasil melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. menegakkan ajaran tauhid, juga sukses memperluas penyebaran dan mengharumkan nama Islam.
Hingga akhirnya sampai pada generasi kita, dimana proses pendidikan Islam berlangsung-termasuk pesantren, masjid, madrasah, majlis taklim, kelompok pengajian dan Perguruan Tinggi Islam,  hasil-hasil capaian yang dipelajari, tidak jauh berbeda dengan konsep yang yang dilakukan oleh Nabi dan sahabatnya. Akhirnya muncullah pertanyaan, mampukah kita melestarikan dan meneruskan perjuangan Nabi Saw dan para sahabatnya pada pendidikan islam.
Pendidikan Islam adalah titik tekannya pada moral keagamaan, moral yang terjadi karena iman kepada Alloh Swt atau moral yang berdasarkan nilai-nilai Agama Islam. Dimana akhlaqul karimah yang amat berperan sebagai control pada manusia ketika menjalankan roda kehidupan didunia dan sebagai persiapan hidup diakhirat.
          Karena kita sadar bahwa disamping ada moral keagamaan juga ada moral sekuler, amat berlawanan sekali, tugas pendidikan islam itu nanti disini menyelamatkan manusia biar tidak dihinggapi moral sekuler.Apalagi bagi generasi dinegara tercinta ini.Untuk itu saya berusaha  menarik suatu permasalan konsep pendidikan islam masa sahabat diaplikasikan dengan pendidikan islam yang ada di Indonesia. 

I. PERUMUSAN MASALAH
                       Masalah pendidikan merupakan suatu persoalan yang perlu sekali untuk diperbincangkan. Karena kemajuan sumber daya manusia bahkan kemajuan agama dan Negara tergantung dari potensi pendidikannya.Freire menginginkan agar pendidikan mampu merangsang manusia untuk berfikir mandiri dalam rangka menciptakan gagasan-gagasan yang otentik dan orisinal.
Untuk itu pada Rumusan Masalah ini, saya ingin menarik suatu permasalahan:
1.      Bagaimana Konsep Pendidikan Islam Dimasa Sahabat
2.      Bisakah Konsep Pendidikan Islam Masa Sahabat Diaplikasikan Pada Pendidikan Islam Di Indonesia

II. PEMBAHASAN
A. PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAU AL-RASYIDIN
Bertahun-tahun pemerintahan Khulafau al-Rasyidin merupakan perjuangan terus menerus antara hak yang mereka bawa dan masalah kebatilan yang mereka perangi dan musuhi.Pada zaman khulafau al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkanAl-Qur’an dan Sunnah.1
Berikut penguraian tentang pendidikan Islam pada masa Khulafau al- Rasyidin:
B. MASA KHALIFAH ABU BAKAR AS-SIDDIQ. R.A
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi


1. Prof. DR. Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Pustaka Husna, 1988, Hal. 121
materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab.Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa itu adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul terdekat.2
Lembaga pendidikan Islam masjid, dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, pembinaan pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya.
C. MASA KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB. RA
Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.
Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.3
Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.
D. MASA KHALIFAH USMAN BIN AFAN. RA.
Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam.Para sahabat yangberpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, pada masa Usman diberikan kelonggaran untuk keluar di



2. Prof. DR. H. Samsul Nizar, M. Ag, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana, 2008, Hal. 45
3.Ibid, Hal. 48
daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.4
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa ini diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah.
E. MASA KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB. RA
Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.5
Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafau al-Rasyidin antara lain:
  1. Makkah
  2. Madinah
  3. Basrah
  4. Kuffah
  5. Damsyik (Syam)
  6. Mesir.6
F. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM MASA KHULAFA AL RASYIDIN
( 632 - 661M / 12 - 41 H)
Sistem pendidikan islam pada masa khulafau al-Rasyidin dilakukan secara mandiri,tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin al;khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab.
Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:
  1. Membaca dan menulis
  2. Membaca dan menghafal Al-Qur’an
  3. Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya

4. Prof. DR. H. Samsul Nizar, M. Ag, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana, 2008, Hal 49
5. Ibid. 50
6. prof. Dr. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya Agung, 1992, Hal. 137
Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:
  1. Berenang
  2. Mengendarai unta
  3. Memanah
  4. Membaca dan menghapal syair-syair yang mudah dan peribahasa.
Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:
  1. Al-qur’an dan tafsirnya
  2. Hadits dan pengumpulannya
  3. Fiqh (tasyri’). 7

KESIMPULAN
  • Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Makkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim, agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Madinah dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran , merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.
  • Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Unar bin Khattab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana pada masa khalifah Umar, guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukan. Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah di bolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar.pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.








8.  DR. Armei Arif,  MA, Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam Klasik, Angkasa, 2005, Hal. 137
III. KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MASA SAHABAT DIAPLIKASIKAN PADA
PENDIDIKAN ISLAM DI   INDONESIA
Lewat suatu dialog imajiner dengan guru spritualnya Rumi, Iqbal mengadu:

“ Pikiran-pikiranku yang menerawang tinggi telah mencapai langit, tapi dibumi aku terhina, kecewa, dan sekarat.
Aku tak mampu menangani persoalan-persoalan dunia ini, dan aku senantiasa menghadapi batu-batu penarung dijalan ini.
Mengapa urusan dunia terlepas dari kontrolku?
Mengapa sialim dalam agama ternyata dungu dalam persoalan dunia?”

Rumi tanpa pikir panjang menjawab:
“ seseorang yang mengaku dapat berjalan dilangit;
Mengapa harus sukar baginya melangkah dibumi?”

Kemudian bila dialog Iqbal – Rumi kita tangkap latar belakangnya, maka ternyata persoalannya menyangkut masalah pendidikan umat yang salah kaprah. Setidak-tidaknya ada tiga persoalan pokok yang saling berkaitan yang dapat dijabarkan dari dialog itu.
Pertama. Sosok muslim yang menjadi luntang – lantung bila dihadapkan kepada persoalan – persoalan dunia yang selalu berubah dan menantang tampaknya  disebabkan oleh krisis identitas diri yang kronis, sedangkan system pendidikan islam yang berlaku belum bisa menolong keadaan. Dalam hal ini, dikarenakan adanya dikotomi system pendidikan. Ada system pendidikan agama dan system pendidikan sekuler ( umum ).
Kedua.Kegiatan pendidikan dibumi haruslah berorientasi kelangit, suatu orientasi transcendental, agar kegiatan itu punya makna spiritual yang mengatasi ruang dan waktu. Orientasi ini harus tercermin dengan jelas dalam rumusan system pendidikan islam, penyusunan suatu system pendidikan islam merupakan tugas strategis dalam usaha pembaharuan pendidikan islam itu sendiri. Orientasi spiritual ini, sangat sentral dalam melahirkan manusia – manusia muslim terdidik yang nuraninya benar – benar terpanggil untuk memenangkan masa depan islam kita di Indonesia.
Ketiga.Perlunya dilakukan re – definisi ulama’ siapa sebenarnya ulama’ yang dimaksud dalam Alqur’an.Dalam ungkapan Iqbal, si alim tapi dungu dalam soal – soal dunia, tentunya bukan tipe itu yang dimaksudAl-qur’an.Mengenai soal-soal dunia tidak saja menyangkut masalah – masalah praktis, tapi juga berkaitan dengan arus pemikiran yang berkembang sekarang. Tanpa pengenalan yang agak mendalam tentang arus pemikiran yang mempengaruhi umat manusia, barangkali akan sulitlah bagi ulama untuk berdialog dan berkomunikasi dengan dunia modern dengan segala persoalannya yang kompleks. Tanpa dialog inten, bagaimana mungkin dapat mengarahkan kekuatan-kekuatan sejarah kemanusiaan khususnya dibidang pendidikan islam.9
Alternatifnya adalah system pendidikan islam yang ada di Indonesia harus kembali mengikuti system pendidikan islam di pada masa sahabat nabi, karena masa pendidikan islam dimasa sahabat merupakan system bergelanjutan dari nabi muhamad saw yang bersandar pada Al-qur’an dan sunnah. Kedua pondasi dasar kurikulum pendidikan islam tersebut kita fahami secara komprehensif bukan sepotong – potong.
Saya punya keyakinan dengan meletakan system pendidikan islam masa sahabat penerus perjuangan Nabi saw tersebut. Pendidikan islam yang ada di Indonesia akan mengalami perubahan dan dapat mencetak generasi handal yang berakhlaqul karimah, karena system pendidikan islam masa sahabat tidak ada konsep dualisme-dikotomis tentang pendidikan. Dan kalau kita menginginkan pendidikan islam di Indonesia lebih berhasil, maka yang harus kita lakukan adalah merombak konsep dualisme-dikotomis secara mendasar, dari tingkat dasar sampai keperguruan tinggi, kita kembalikan pada system pendidikan masa khulafau al-rosyidin yang sudah jelas–jelas berorientasikan pada Al-qur’an dan Sunnah Nabi dan terbukti keberhasilan dan keunggulannya.

METODE APLIKASINYA
Tujuan utama dari Pendidikan Agama Islam adalah Pendidikan moral (Akhlaq). Karena akhlaq Islamsuatu system yang sempurna dan bebas dari segala macam kelemahan seperti yang terdapat pada faham-faham akhlaq lain. 10 Maka metode yang sebaiknya dipakai antara lain:
1.      Pemberian contoh dan teladan yang baik dari pendidik kepada anak didik
2.      Pemberian nasehat kepada siswa atau mahasiswa.
3.      Tuntunan dalam menyelesaikan persoalan moral atau spritual, baik yang bersifat individual maupun yang bersifat kolektif.
4.      Kerjasama dengan lingkungan rumah danlingkungan pergaulan anak didik
5.      Kerjasama dengan pendidik pengetahuan umum lainnya.
6.      Metode Tanya jawab dan diskusi dalam hal pendekatan intelektual tentang ajaran-ajaran agama.1

9. A. Syafii Maarif, Peta Bumi Intelektualisme Islam Di Indonesia, Mizan, 1993, Hal. 150, 151
10. Ikip Malang, Pendidikan Agama Islam Untuk Mahasiswa, 1995, Hal. 180
11. Prof. DR. Harun Nasution, Islam Rasional, Mizan, Hal. 388

KESIMPULAN
Ø  Sosok muslim yang belum siap ketika menghadapi tantangan dan perubahan didunia dengan segala persoalannya karena system pendidikan islam yang belum mampu menolongnya
Ø  Pendidikan harus berorientasi kepada Al-qur’an dan sunnah Nabi Saw
Ø  Harus ada re-definisi ulama, agar mampu berdialog bukan hanya pada hal yang praktis tetapi juga pada tataran arus pemikiran sekarang
Ø  Pendidikan islam di Indonesia ingin berhasil harus kembali kepada masa pendidikan islam sahabat dan metode Al-qur;an dan Assunah yang difahami secara komprehensif.
sourche:http://agussubur.blogspot.co.id/