Urgensi Soft Skills Bagi Profesi Guru

a. Pengertian Soft Skills
Sebelumnya kita telah membahas tentang urgensi soft skills. Tentunya kita harus mengetahui pengertian soft skills itu sendiri. Soft skills, yaitu perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia seperti membangun tim, pembuatan keputusan, inisiatif dan komunikasi. Soft skills tidak termasuk keterampilan teknis seperti keterampilan merakit komputer. Dengan kata lain, soft skills menncakup pengertian keterampilan non-teknis, keterampilan yang dapat melengkapi kemampuan akademik dan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap orang, apapun profesi yang ditekuni. Profesi seperti guru, polisi, dokter, akuntan, petani, pedagang, perawat, arsitek dan nelayan harus mempunyai soft skills. Guru harus mempunyai soft skills yang kuat. Sebab, soft skills pada dasarnya merupakan keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan untuk kerja secara maksimal.
Dari pengertian tersebut, soft skills merupakan kualitas diri yang bersifat ke dalam dan keluar. Jika berbagai kualitas ini kita miliki maka kita akan menjadi manusia hebat, sukses dan maju. Bagaimana tidak, misalnya kita selaku guru secara pribadi mempunyai kualitas diri seperti kejujuran, komitmen , bertanggung jawab, bersyukur, ikhlas, dan cinta profesi, ditambah dengan kualitas soisial seperti mampu berkomunikasi seacar efektif, mampu memberi motivasi kepada orang lain dan mampu menghhadapi perbedaan, pasti kita menjadi guru hebat.

Sebagai guru, interpersonal skills sangat pennting untuk dimiliki. Keterampilan ini, sebagaimana telah disebut sebagian di atas, antara lain mencakup kemampuan dalam menghangatkan hubungan, membuat pendekatan yang mudah, membangun hubungan, secara konstruktif, menggunakan diplomasi dan teknik untuk mencairkan situasi yang tegang dan menggunnakan gaya yang dapat menghentikan permusuhan.Thomas F. Mader dan Diane C. Mader, membedakaan antara komunikasi impersonal dan kommunikasi interpersonal. Dalam komunikasi interpersonal, masing-masing orang saling memahami, namun tidak ada keterlibatan emosi. Komunikasi interpersonal mempunyyai kualitas kedekatan yang jauh lebih tinggi dari impersonal. Interpersonal adalah komunikasi antara dua orang atau lebih di mana masing-masing orang mempunyai keterlibatan emosi dan komitmen dalam menjalin hubungan. Interpersonal skill adalah kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Dalam teori kompetensi, keahlian interpersonal diartikan sebagai keinginan untuk memahami orang lain.
Dengan pengertian di atas, bisakah kita membedakan antara soft skills dengan hard skills menggambarkan perilaku dan keterampilan yang dapat menghasilkan sesuatu yang sifatnya visible dan immediate. Hard skills dapat dinilai dari technical test atau practical test. Unsur hard skills dapat kita lihat dari intelligence quotion thinking yang mempunyai indikator kemampuan menghitung, menganaalisis, mendesain, wawasan dan pengetahuan yang luas, membuat model dan kritis. Sementara itu soft skills merujuk kepada indikator seperti kreativitas, sensitivitas dan intuisi yang lebih mengarah pada kualitas personal yang berada di balik perilaku seseorang.
Dari sisi soft skills seorang dengan profesi guru dan dokter sama-sama harus mempunyai kualitas jujur, bertanggung jawab, mempunyai komitmen, bekerja keras, mau terus belajar, menghargai orang lain, mampu beradaptasi, rendah hati, sederhana dan mampu bekerja sama. Namun, jika dikaitkan dengan hard skills, kedua profesi tersebut membutuhhkan kualitas berbeda. Seorang guru harus mempunyai keterampilan membuka pelajaran, mengelola kelas, mendesain diskusi kelompok, menata ruangan, dan menulis yang baik. Berbagai keterampilan ini tidak perlu dimiliki oleh seorang dkter. Sebab, seorang dokter hanya memerlukan penguasaan keterampilan teknis seperti cara menyunntik pasien dan sebagainya.
Setelah kita mengetahu perbedaan hard skills dan soft skills, perhatikan kehebatan orang yang mempunyai soft skills tinggi. Menurut studi yang pernah dilakukan Philip Humbret (1996), hampir semua pemimpin di dunia punya keahlian interpersonal yang bagus. Salah satu buktinya adalah kemampuan merekadalam menjaga hubungan yang cukup lama dengan kenalan, sahabat dan mitranya. Orang-orang yang prestasinya bagus di bidangnya juga rata-rata punya keahlian interpersonal yang bagus. Mereka mampu menjaga kesepakatan, menjaga perasaan, menghormati orang lain dan mampu menempatkan orang lain.
b. Pentingnya Soft Skills Bagi Profesi Guru
Kompetensi guru yang termasuk soft skills adalah kommpetensi kepribadian kepribadain dan kompetensi sosial. Kompetensi kepribadian lebih mengacu pada kematangan pribadi guru secara intrapersonal antara lain mencakup kematangan moral, etika, komitmen, tanggung jawab, kearifan, wibawa, inklusif, toleransi dan disiplin. Sementara itu, kommpetensi sosial leboh mengacu pada kematangan guru dalam membangun relasi dengan pihak lain dalam konteks pendidikan seperti peserta didik, kolega, orang tua murid, asosiasi profesi lain dan komunitas lain pada umumnya.
Ada beberapa alasan tentang peran kompetensi keperibadain dan sosial sebagai soft skills bagi guru.
Pertama, kepribadian dan sosial lebih substantif ketimbang profesional dan pedagogik. Jika kedua kompetensi soft skills tersebut dimiliki guru, maka secara otomatis kompetensi soft skills tersebut dimiliki guru, maka secara otomatis kompetensi profesional dan pedagogik akan teratasi. Sebab, di laapangan banyak dijumpai guru yang sebenarnya bukan berlatar belakang LPTK, namun cukup berhasil karena mempunyai semangat belajar tinggi dan mampu menjalin komunikasi efektif dengan stakeholder pendidikan lain. Ini bukan berarti menjadi alasan untuk tidak memerlukan LPTK sebagai lembaga penghasil caloon guru. Logikanya harus diubah, kalau alumni non-LPTK saja bisa berhasil menguasai kompetensi kepribadian dan sosial, terlebih alumni LPTK, maka pasti akn lebih berhasil jika kedua kompetensi tersebut dikuasai. Sebab, pengondisian di LPTK jauh lebih lama dibandingkan dengan guru dari non-LPTK. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana proses mematangkan kedua kompetensi tersebut di LPTK. Tentu inni menjadi evaluasi bagi para pengelola LPTK.
Secara umum soft skills dimaknasi sebagai keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kkerja secara maksimal. Dikaitkan dengan kompetensi guru, kompetensi kepribadian merupakan bentuk dari intrapersonal skills, sementara kompetensi sosial merupakan wujud dari interpersonal skills. Diantara conntoh intrapersonal skills adalah jujur, tanggung jawab, toleransi, menghargai orang lain, kemampuan bekerja sama, bersikap adil, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan memecahkan masalah, mengelola perubahan, dan sebagainya. Sementara itu di antara wujud interpersonal skills adalah keterampilan bernegosiasi, presentasi, melakukan mediasi, kepemimpinan, berkomunikasi dengan pihak lain dan berempati dengan pihak lain.
Keedua jenis soft skills tersebut sangat diperlukan oleh setiap orang, sebab setiap orang harus mempunyai komitmen, tanggung jawab, jujur, diisiplin dan mampu mengambil keputusan dan memecahkan masalah, apa pun profesinya. Yang membedakan anatara profesi guru dengan yang lain justru hard skills. Sebab, hard skills terkait dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya.
Jika kompetensi kepribadian guru diurai, terutamayang relevan dengan intrapersonal skills, maka indikator kompetensi tersebut adalah:
1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia dengan indikator mampu menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat sitiadat, daerah asal dan gender, dan mampu bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan sosial yang berlaku dalam masyarakat, dan kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.
2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia,dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat dengan indidkator berperilaku jujur, tegas dan manusiawi, berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia dan perilaku yang dapat diteladani oleh peseta didik dan anggota masyarakat sekitarnya.
3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa dengan indikator mampu menampilkan diri sebagi pribadi yang mantap dan stabil dan menampilkan diri sebagai pribdi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
4. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi guru dan rasa percaya diri dengan indikator mampu menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi, bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri dan bekerja mandiri secara profesional.
5. Mempu menjunjung tinggi kode etik profesi guru dengan indikator memahami kode etik profesi guru, mampu menerapkan kode etik profesi guru dan berperilaku sesuai dengan kode etik profesi.
Jika kita cermati dari indikator kepribadian tersebut, maka munculnya kegelisahan problem pendidikan karakter di Indonesia sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru mampu menghayati kompetensi kepribadian ini. Guru merupakan sosok panutan yang akan ditiru dan melakukan transformasi diri dan sosial melalui proses pendidikan. Guru yang berhasil tidak didasarkan pada ukuran material semata seperti ijazah formal, nilai IPK, jumlah jam mengajar atau bahkan besarnya gaji yangditerima.guru dianggap berhasil justru ketika dia mampu menjadi teladaan bagi setip peserta didik. Jika dikaitkan dengan indikator kopetensi kepribadian, maka guru yang berhasil adalah ketika dia bertanggung jawab, bermoral jujur, menghargai orang lain, punya komitmen tinggi, mau terus belajar, berwibawa, arif dan bijaksana.
Sementara itu, kompetensi sosial guru, yang relevan dengan interpersonal skills adalah:
1. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, llatar belakang keluarga dan status ekonomi dengan indikator menunjukkan sikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pemeblajaran dan tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkugan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga dan status sosial-ekonomi.
2. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santunn dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat dengan indidkator mampu berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik dan efektif, berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat seacar santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik dan mengikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan mengatasi kesulitan belajar pesrta didik.
3. Mampu beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang meilki keragaman sosial budaya dengan indikator kemampuan beradaptasi dengan lingkungan teepat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik dan dapat melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kuualitas pendidikan di daerah yang bersaangkutan.
4. Mampu berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lainn secara lisan dan tulisan atau bentuk lain dengan indikator dapat berkomunikasi dengan teman sejawat, profesi ilmiah dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajarn dan mampu mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi penbelajarn kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan maupun bentuk lain.
c. Pengembangan Intrapersonal Skills Bagi Guru
Segala apapun bentuk kegiatan yang dilakukan oleh individu selaku guru harusnya bermakna bagi dia sendiri, keluarga, peserta didik kolega, orang tua murid dan masyarakat secara umum. Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan profesi guru dan semua yang telah kita lakukan? Kesadaran ini penting, sebab ketika kita melakukan keegiatan tanpa ada kesadaran, maka boleh jadi kegiatan tersebut tidak ada isinya, tidak berbobot, hambar dan bisa jadi sia-sia hasilnya.
Menurut Ibrahim Elkifiky (2009), secara garis besar ada dua kesadaran dalam diri kita, yaitu kesadaran internal dan kesadaran eksternal. Coba kita kaitkan dua jenis kesadaran tersebut dengan profesi guru. Kita mulai dari kesadaran internal kita. Coba tanya pada diri sendiri, mengapa kita menjadi guru? Mengapa kita perlu mengajar di kelas? Mengapa kita perlu membuat RPP? Mengapa kita perlu membimbing peserta didik di sekolah, bukankah mereka anak orang lain? Mengapa kita perlu mempersiapkan dir sebelum mengajar? Mengapa kita perlu melakukan evaluasi pembelajran? Masih banyak pertanyaan yang terkait dengan alasan mengapa kita memilih profesi guru dengan sejumlah aktiviytas di dalamnya?.
Karena itu bedasarkan paparan singkat di atas kita tentu sudah tahu apa yang sebenarnya dilakukan, etetap menjadi guru atau meninggalkan profesi guru karena merasa terpaksa. Kalau kita sudah menyadari arti penting guru dan menjadikan hidup kita lebih bermakna, maka jaga kesadaran ini terus bersemayam dalam diri kita. Namun, jika kita termasuk yang belum menyadari arti penting profesi guru, maka sebaiknya kita segera “kembali ke jalan yang benar” daripada terpaksa menjalani hidup dan tidak bermakna. Hal ini perlu kita lakukan agar setiap kali mengerjakan tugas-tugas profesi tidak muncul keluhan.
Kalau menjadi guru merupakan panggilan hati, maka melaksanakn semua profesi ini dengan ringan, ikhlas, penuh dedikasi, komitmen, semangat, penuhh percaya diri, punya mimpi dan tujuan, pennuh cinta, penuhh keyakinan dan fokus. Hasilnya, kita akan beahagia, ceria, damai dan penuh makna. Sebaliknya, kalau menjadi guru karena panggilan gaji maka kettika melaksanakan tugas profesi lebih tertekan, terpaksa, reaktif, bekerja kalau ada maunya saja dan tidak ikhlas. Tipe guru yang kedua inilah yang oleh Rhenald Khasali disebut dengan guru kurikulum, sementara guru tipe pertama disebut guru inspiratif,. Semoga kita termasuk dalam guru tipe inspiratif yang selalu membawa pencerahan dan menginspirasi peserta didik.
Jadi dapat kita simpulkan disini, sebagai guru, kita harus mempunyai kesadaran tentang profesi kita. Kesadaran ini penting agar profesi tersebut bermakna bagi kita, keluarga, anak-aanak, orang tua dan masyarakat, bahkan bangsa. Kekuatan kesadarn inilah yang menjadikan kegiatan kita selaku guru di masa depan terus bermanfaat, bernilai dan membawa kemajuan. Kesadaran dapat dilakukan secara internal dan juga secara eksternal. Kesadaran internal menjadikan guru juat secara personal, sementara kesadaran eksternal menjadikan guru kuat secara sosial.

Sumber : Ali Mudlofir.2012. Pendidik Profesional: Konsep Strategi dan Aplikainya dalam Peningkatan Mutu Pendidik Di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada

0 Response to "Urgensi Soft Skills Bagi Profesi Guru"

Post a Comment