Sandera Asal Inggris John Cantlie Muncul Kembali dalam Video Terbaru Islamic State (IS)

Sandera Asal Inggris John Cantlie Muncul Kembali dalam Video Terbaru Islamic State (IS)


MOSUL, IRAK - Seorang sandera Inggris telah muncul kembali dalam video propaganda Islamic State (IS) terbaru yang dikatakan telah direkam di kota Mosul Irak, yang pasukan koalisi saat ini sedang berusaha untuk merebut kembali dari IS.

John Cantlie, seorang jurnalis yang ditangkap di Suriah pada 2012, nampak terlihat dalam rekaman yang dirilis oleh kantor berita terkait IS, A'maaq dan dilansir Zaman al-Wasl hari Kamis (8/12/2016).

Dalam video itu ia berbicara tentang kerusakan infrastruktur di Mosul yang disebabkan oleh serangan koalisi.

Cantlie memulai repotasenya dengan mengatakan bahwa Mosul, yang memiliki lima jembatan di seberang Sungai Tigris, sekarang hanya memiliki satu jembatan yang menghubungkan wilayah timur dan barat.

Dia mengatakan pasukan koalisi "mengambil itu bagi mereka sendiri dan secara sistematis menghancurkan" empat lainnya, menyebabkan "kekacauan".

Cantlie mengatakan tujuan koalisi adalah untuk menghentikan "Mujahidin bergerak bebas dalam Mosul".

Tapi dia mengatakan merek tah salah memilih sasaran. "Tidak ada Mujahidin di sini," katanya.

"Mujahidin berjuang di garis depan, berkilo-kilo meter (jauhnya)."

Dia mengatakan orang-orang biasa yang saat ini sangat terpengaruh dan "menghentikan langkah mereka akibat bom yang telah menghancurkan jembatan ini".

Kemudian dalam video itu, Cantlie bergerak ke lokasi lain. Di belakangnya adalah orang-orang mengisi wadah dengan air dari sebuah pipa yang tegak berdiri.

"Sejak koalisi mulai menjatuhkan bom dengan sungguh-sungguh di kota ini, air sekarang menjadi masalah besar," katanya.

John Cantlie telah menjadi host serangkaian video untuk IS selama masa penahanannya. Ketika video terbaru ini dirilis, komandan pasukan koalisi pimpinan AS mengklaim pertempuran melawan IS di Mosul bisa memakan dua bulan.

Upaya untuk merebut kembali Mosul dari IS adalah pertempuran terbesar di Irak sejak invasi pimpinan AS tahun 2003.
Sourche: voa-islam.com