Peneliti Sejarah: Isu Wahabi Dipolitisasi untuk Memecah Belah Umat

BERTEMPAT di aula AQL Islamic Center, Tebet Jakarta Selatan, pada hari Sabtu 19 September 2015, Forum JIB (Jejak Islam untuk Bangsa) menyelenggarakan diskusi menarik.

Kajian perdana yang disebut NGOBRAS (Ngobrol Bareng Sejarah Indonesia) yang diikuti 89 peserta ini mengangkat tema: Gerakan Pembaruan Islam Awal Abad 20.).

Tajuk ini diangkat bersamaan dengan memanasnya kembali isu Wahabisme di Indonesia. Tentu saja, sebagai umat Islam diperlukan kajian serius agar tidak terjerumus pada berita-berita yang simpang-siur dan provokatif.

Pada jam 10.00, acara dibuka oleh Begy, selaku moderator. Ia memaparkan sinopsis ringkas tentang tema kajian. Kemudian ia berharap agar kajian sejarah seperti ini bisa konsisten dilaksanakan setiap bulan.

Acara kemudian diserahkan langsung kepada presentator Doktor Sejarah Universitas Indonesia yang juga peneliti sejarah pemikiran Islam, yakni Dr. Tiar Anwar Bachtiar. Di  awal pembukaan, Tiar menandaskan pentingnya sejarah sebagai referensi bagi tindakan umat.

Selanjutnya, Ketua Persatuan Pemuda PERSIS ini menjelaskan panjang lebar mengenai sejarah muncunya Wahabi serta pengaruhnya pada Pembaruan Islam Indonesia pada awal 20-an hingga masa sekarang.

Dikatakan Tiar, penyebutan istilah Wahabi, sebenarnya kurang tepat. Pasalnya, kalau mau konsisten, seharusnya kalau dinisbahkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, maka semestinya bernama: Muhammadiyah. Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan istilah.

Lebih jauh Tiar menarik benang merah bahwa penyebutan istilah ini, sarat muatan politis. Nama wahabi sengaja dipilih –oleh pembencinya- supaya dikesankan negatif seperti gerakan Wahabiyah pada abad keempat di Maroko, yang dinahkodai seorang Khawarij bernama Wahab bin Rustum.

Lebih dari itu, menurut pengamatan Tiar, “Masalah konflik antara Wahabi dan Asy`ari sudah terjadi beberapa abad yang lalu, kalau sekarang memanas kembali berarti ada yang menunggangi.”

Paling tidak, menurut analisis Tiar, ada dua hal mendasar yang menyebabkan isu ini memanas kembali. Pertama, isu ini dipolitisasi sedemikian rupa oleh pihak berkepentingan untuk memecah belah umat.

Ada adagium menarik yang sempat dikemukakan terkait masalah konflik internal umat Islam: “Konflik yang terjadi sebenarnya bukan karena perbedaan pendapat, tapi perbedaan pendapatan.” Artinya, konflik perbedaan pendapat antara Wahabi dan Asy`ari di Bumi Pertiwi, sebenarnya sudah lama usai. Namun karena ada kepentingan politis, isu ini diangkat kembali.

Kedua, buntunya komunikasi umat. Akibatnya terjadi kesenjangan yang luar biasa di antara umat Islam. Apalagi, jika masalah khilafiyah furu`iyah (perbedaan pada masalah agama yang cabang bukan pokok) dibesar-besarkan, maka akan menjadi semakin runyam.

Dikatakan Tiar, solusi paling riil untuk menghadapinya jelasnya ialah: tidak memperbesar konflik di wilayahfuru`iyah, sembari dibangun kembali semangat bertoleransi, kemudian perlu dijalin komunikasi yang baik antar umat.

Selama umat Islam tidak bergantung pada uang, tak bermuatan kepentingan politik, serta mampu menjalankan komunikasi dengan baik, maka insyaallah isu lama seperti Wahabisme tidak akan berakibat pada konflik yang lebih besar.

Karena itu, Tiar menyarankan lebih baik energi umat Islam disatukan pada hal-hal yang disepakati, serta tolerir terhadap yang tidak disepakati agar tidak terbuang percuma.

Menjelang Pukul 12.00, diskusi pun dipungkasi dengan beberapa harapan besar dari pembicara. Pertama, agar umat bisa menjaga persatuan dan tidak terpengaruh dengan istilah-istilah provokatif. Kedua, pentingnya menjalin komunikasi yang baik antarumat Islam. [Mahmud Budi Setiawan/Islampos/afdhalilahi)