TASAWUF DAN ILMU PENGETAHUAN


PENDAHULUAN


          Ilmu pengetahuan tidak pernah putus dari kepentingan manusia sebagai bekal dan alat untuk mempermudah melanjutkan kehidupannya sebagai khalifah di muka bumi ini. Ilmu yang fungsinya dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia harus memiliki tuntunan agar tujuan diciptakan ilmu itu jelas untuk kemaslahatan manusia. Ilmu yang tidak memiliki tuntunan dan diciptakan untuk maksud yang tidak baik maka ilmu itu dapat memberikan kesengsaraan, bukannya kebahagiaan. Maka dari itu ilmu itu perlu mendapatkan tuntunan sehingga dapat dikendalikan sesuai fungsinya.
          Dewasa ini, perkembangan ilmu itu dikendalikan oleh kemauan bebas manusia sendiri, selama itu pula mereka diliputi oleh rasa takut, resah dan cemas dalam mengarungi hari-hari mereka dan dalam menatap masa depan. Dalam hal ini tasawuf berorientasi untuk membersihkan jiwa manusia dari keserakahan hawa nafsu merupakan alternative yang dapat dijadikan solusi krisis dunia modern. Yang mana walaupun manusia sangat berhasil dalam mengembangkan ilmu pengetahuan namun kemanfaatannya itu hanya bisa dirasakan secara lahiriah dan belum menyentuh secara batiniyah. Maka di sinilah letak eksistensi tasawuf terhadap ilmu pengetahuan dalam rangka mengisi kekosongan secara batiniyah.
  

PEMBAHASAN

A.    Hakikat Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan mulai dibutuhkan manusia sejak manusia itu menerima tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Hal ini terbukti dalam ayat Al-Qur’an, ketika Allah menciptakan Nabi Adam As kemudian Allah ajarkan seluruh nama-nama kepada Nabi Adam As. Menurut Quraish Shihab, kata ilmu dalam berbagai bentuk terdapat 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian tujuan. Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan. Jadi, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.[1] Pengetahuan yang jelas di sisni maksudnya adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis berdasar logika, menggunakan metode tertentu dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Berdasarkan sejarah ilmu pengetahuan pada masyarakat Barat, zaman Yunani kuno memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dilihat dari hasil-hasil penemuan yang sangat spektakuler sehingga menyebabkan kemajuan pesat ilmu pengetahuan Barat seperti yang kita lihat sekarang ini. Pengaruh besar yang diwariskan dari zaman Yunani kuno adalah cara berfikir filsafat, di mana filsafat merupakan induk dari suatu ilmu (mother of knowledge) yang melahirkan suatu disiplin ilmu.
Setiap jenis pengetahuan mempunyai pengetahuan yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.[2] artinya ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang memiliki kejelasan, disusun secara sistematis dan bertujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang dihadai manusia atau untuk menawarkan berbagai kemudahan dalam hidup manusia.
Kenyataan hidup adalah sumber ilmu pengetahuan yang harus dipelajari dan di renungi agar kehidupan manusia tidak tersesat. Sumber ilmu pengetahuan dalam Islam adalah seluruh firman Allah yang bersifat qauliyah, yakni mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih, juga firman Allah yang bersifat kauniyah, yaitu semua ciptaan-Nya yang diyakini sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Sehingga tidak salah jika Allah menurunkan Wahyu Al-Qur’an yang pertama kepada Rasulullah SAW adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
Artinya:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,[3]
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat-ayat yang diturunkan sebagai wahyu pertama di atas member lima kunci dasar ilmu pengetahuan, yaitu sebagai berikut:[4]
1.      Ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT.
2.      Ilmu pengetahuan harus digali dari diri manusia.
3.      Ilmu pengetahuan berlimpah ruah dari kalam-kalam Allah.
4.      Ilmu pengetahuan sebagai alat mencerdaskan manusia.
5.      Ilmu pengetahuan sebagai jati diri manusia yang memahami Rahman dan Rahim Allah SWT.
Dengan lima aspek dasar tersebut, dasar ilmu pengetahuan dan pengembangannya berpijak pada empat hubungan manusia, yaitu:
1.      Hubungan manusia dengan Allah, antara makhluk kepada Khaliknya.
2.      Hubungan manusia dengan sesame manusia,
3.      Hubungan manusia dengan alam jagat raya,
4.      Hubungan manusia dengan keyakinan dan takdirnya.




B.     Instrument Epistemic Untuk Memperoleh Pengetahuan

Dalam filsafat ilmu, cara mendapatkan ilmu dinamakan epistimologi, dan landasan epistimologi ilmu disebut metode ilmiah. Metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun suatu kerangka pengetahuan secara sistematis dan dapat di uji kebenarannya. Pengetahuan diperoleh melalui dua cara, yakni:[5]
1.      Melalui usaha manusia
Pengetahuan yang diperoleh melalui usaha manusia ada 4 jenisnya yaitu:
a.       Pengetahuan empiris yang diperoleh melalui indera
b.      Pengetahuan filsafat yang di peroleh melalui indera dan akal
c.       Pengetahuan filsafat yang diperoleh melalui akal
d.      Pengetahuan intuisi yang diperoleh melalui hati nurani.
2.      Melalui pemberian dari Allah
Pengetahuan yang diperoleh melalui pemberian dari Allah ada 3 jenisnya yaitu:
a.       Wahyu yang disampaikan kepada para Rasul
b.      Ilham yang diterima oleh akal mnusia
c.       Hidayah yang ditrima oleh hati nurani manusia.

Berbicara mengenai bagaimana cara meperoleh ilmu pengetahuan tidak terlepas dari pada penggunaan alat untuk mencari pengetahuan itu sendiri. Pada umumnya para sufi berbicara tentang tiga alat (sumber) ilmu pengetahuan, yaitu indera, akal dan hati (intuisi).
1.      Menurut para sufi, indera terbagi atas indera lahir dan indera batin. Di antara indera batin yang paling utama adalah “mutakhayyilah” atau apa yang disebut oleh Ibn ‘Arabi sebagai “creative imagination” yaitu mata hati, di mana para sufi dapat melihat entitas-entitas spiritual sebagaimana indera lahir kita menangkap objek-objek indrawi.
2.      Akal dipandang sebagai “mudabbir”(pengelola) yang dapat mengendalikan nafsu-nafsu, sehingga nafsu tersebut bisa membantu pertumbuhan spiritualitas seseorang. Dalam bukunya Kimia Kebahagiaan, al-Ghazali menganalogikan akal dengan wazir yang perintah-perintahnya harus diikuti oleh nafsu, yaitu nafsu syahwat yang dianalogikan sebagai “pengumpul pajak” dan Nafsu ghadabiyah yang dianalogikan dengan “polisi”. Hanya dengan menikuti instruksi sang wazir maka mekanisme Negara akan berjalan lancer dan memperoleh kemajuan.
3.      Al-Ghazali mengumpamakan hati sebagai “Raja” yang mempekerjakan akal sebagai wazirnya, seperti yang telah di singgung dengan nafsu syahwat dan ghadabiyah sebagai pengumpul pajak dan polisi. Jadi hati ini yang menentukan kebijakan dan tujuan hidup manusia, sedangkan akal dan nafsu sebagai pelaksana dan bawahan yang diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mencapai tujuan hidupnya.[6]

Dari penjelasan di atas mengenai bagaimana dan menggunakan apa ilmu pengetahuan itu diperoleh dan harus diusahakan oleh manusiatelah Allah jelaskan dalam firmannya:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ  
Artinya:
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” Qs. An-Nahl : 78)
Berdasar ayat di atas dapat dipahami bahwasanya manusia terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memfasilitasi atau memberi alat berupa pendengaran, penglihatan dan hati untuk digunakan dalam mencari ilmu pengetahuan agar manusia itu mendapatkan ilmu pengetahuan sehingga timbul rasa bersyukur di dalam diri manusia ini tadi dari manusia yang tidak mengetahui apa-apa menjadi manusia yang berpengetahuan.
       Menurut Quraish Shihab, firasat, intuisi, dan semacamnya dapat diraih dengan penyucian hati (tazkiyatun nafs), karena hidayah Allah tidak akan sampai kepada manusia jika kesucian hatinya belum tercapai.[7] Penyucian jiwa ini merupakan orientasi daripada tasawuf itu sendiri yang memberihkan jiwa manusia dari keserakahan hawa nafsu merupakan alternative yang dapat dijadikan sebagai krisis dunia modern.


C.    Cara Memperoleh Pengetahuan

Ilmu yang dipelajari sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman, dikumpulkan dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang dihadapi manusia sehari-hari dan digunakan untuk menawarkan berbagai kemudahan. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia  untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu:
1.      Mendasarkan diri pada rasio
2.      Mendasarkan diri pada pengalaman.[8]
Kaum rasionalis mengembangkan paham yang kita kenal  dengan rasionalisme dan mereka yang mendasarkan diri pada pengalaman mengembangkan paham yang disebut empirisme.
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai penalarannyandidapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia itu berusaha memikirkannya. Paham ini dikenal dengan paham idealisme. Fungsi pikiran manusia hanya mengenal prinsip tersebut yang kemudian menjadi pengetahuannya.  Ide bagi kaum rasionalis bersifat apriori dan pra pengalaman yang didapatkan manusia lewat penalaran rasional.
Berbeda dengan kaum rasionalis, kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia bukan didapat lewat penalaran rasional yang abstrak melainkan lewat pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris bersifat konkrit dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindra manusia.
Di samping rasionalisme dan empirisme, masir terdapat banyak cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk diketahuai adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Kegiatan intuitif sangat bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukan. Kegiatan intuitif dan analitik bisa saling membantu dalam manemukan kebenaran. Bagi Maslow, intuisi merupakan pengalamn puncak (peak eksprience), sedangkan bagi Nietschze ia merupakan intelegensi yang paling tinggi. Dan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada para Rasul. Agama merupakan pengetahuan bukan saja yang mengenai kehidupan sekarang yang tejangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transedentalseperti latarbelakang penciptaan manisia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan pada kepercayaan akan hal-hal yang gaib (supranatural). Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayan kepada nabi sebagai perantara, dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai sesuatu yang disampaikan merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan.
Sebagaimana dengan rasionalis, demikian Nasr, yang secara eksak dipahami Barat ini menimbulkan persoalan, seseorang harus membedakan antara penggunaan akal dan logika secara biasa dengan rasionalisme yang menjadikan akal sebagai alat satu-satunya untuk memperoleh pegetahuan dan satu-satunya criteria untuk menilai kebenaran. Seseorang sering berbicara tentang rasionalisme Aristoteles, walaupun di dalam filsafat Aristoteles terdapat intuisi metafisis, yang tidak dapat dipersempit menjadi sesuatu yang dihasilkan oleh akal manusia; tapi rasionalisme dalam arti kata yang benar dimulai dalam filsafat Eropa modern, walaupun hal semacan itu terdapat juga pada akhir masa filsafat kuno.[9]

D.              Ilmu Pengetahuan dalam Pandangan Para Sufi

Berdasarkan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan, pada dasarnya pengetahuan dapat diperoleh dari penggunaan akal yang digunakan untuk berfikir. Di dalam usaha untuk memahami peranan pikiran di dalam islam, perlu di bedakan antara rasionalisme dengan logika. Sebab logika sendiri merupakan suatu aspek dari yang benar, dan yang benar (al-haqq) adalah sebuah nama Allah. Kepandaian merupakan karunia Tuhan yang membimbing manusia kearah peneguhan ajaran tentang tauhid dan ajaran tentang kenyataan asasi wahyu keislaman. Penggunaan logika dalam sudut pandang islam serupa dengan penggunaan tangga yang membawa manusia dari dunia naik menuji Ilahi.
Ibnu khaldun mengatakan, setiap orang hanya memikirkan dunia ini terbatas pada kadar luas pandangannya saja, padahal sebenarnya jauh lebih luas dari pada itu. Persoalan yang sebenarnya adalah bahwa akal mempunyai keterbatasan. Oleh karena itu tidak bisa diharapkan bahwa akal manusia  akan dapat memahami Allah dan semua sifat-sifat-Nya, karena otak hanyalah satu dari banyak aturan yang diciptakan Allah. Begitu juga, bahwa peristiwa-peristiwa kehidupan yang dialami oleh para ahli tasawuf adalah erat hubungannya dengan kehidupan kerohanian yang tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman yang didapat dalam kehidupan nyata. Imam Al-Ghazali mengatakan tasawuf sebagai pengalaman yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata, siapa yang mengalaminya dialah yang mengetahuinya.
Karena itu, meskipun ilmu pengetahuan telah begitu maju di mana akal pikiran manusia berperan dalam menafsirkan kehidupan inderawi atau alam nyata ini, sudah jelas tidak mampu (terbatas) memahami dan menafsirkan apa yang terjadi dalam kehidupan kerohanian tasawuf. Dalam hal ini banyak para ilmuwan mwnganggap bahwa pengalaman ahli tasawuf adalah hal yang mustahil dan tidak mungkin terjadi.[10] Menurut  pandangan saya, sesungguhya hal itu merupakan bentuk dai ketidakyakinan mereka pada entitas-entitas nonfisik. Bagi mereka yang ada hanyalah yang bersifat fisik semata, sehingga segala sesuatu yang bersifat nonfisik dianggap tidak real atau hanya sebatas ilusu dan halusinasi.
Tetapi pendapat seperti itu dibantah oleh bapak pragmatism dan psikologi Amerika, William James. James percaya bahwa pwngalaman mistik itu mempunyai dasar objektifitasnya, sebagaimana pengalaman indrawi. Dalam bukunya The Variety of Religious Experience, James menunjukkan bahwa pengalaman mistik adalah pengalaman yang bersifat universal, karena dialami oleh berbagai orang suci (saint / wali) pada zaman dan tempat yang berbeda-beda, tanpa dibatasi oleh suatu tradisi atau agama tertentu.[11]
H. Machmud Kahiry HM menyimpulkan, rasio bagi manusia seumpama sinar matahari yang mampu memancarkan cahayanya dalam watu dan ruang yang terbatas. Ia tidak mampu menerangi seluruh bumi dalam waktu yang sama, atau kedalaman lautanyang gelap karena tidak terjngkau olehnya. Fitrah insane yang dilengkapi dengan akal, basirah, sanggup membiaskan cahayanyake segala penjuru alam, ke dalam alam yang terlihat dan tak terlihat, material dan inmaterial.
Ali Abdul Azim mengatakan, para sufi sepakat bahwa pengetahuan yang benar di sini akan sempurna dengan jalan penglihatan mata hati (basirah) tang mendapat ilham dari Tuhan, bukan dengan jalan rasio dan panca indera. Imam Al- Ghazali di dalam kitabnya Al-Munqiz menjelaskan bagaimana panca indera dan akal dapat menyesatkan para pencari pengetahuan yang benar (al-ma’rifah); dan bahwa jalan satu-satunya untuk ma’rifah adalah dengan penglihatan mata hati yang mendapat sinar dari nur Allah.
Ilmu pengetahuan yang pada dasarnya bertujuan untuk memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia dalam menjalani hidupnya diperlukan tuntunan agar terkendali sebagaimana mestinya. Sebagaimana selama ini perkembangan ilmu pengetahuan dikendalikan oleh kemauan bebas manusia itu sendiri, selama itu pula mereka diliputi oleh rasa takut, resah dan cemasdalam mengarungi hari-hari mereka dan dalam menatap masa depan. Tasawuf yang dalam hal ini berorientasi untuk membersihkan jiwa manusia dari keserakahan hawa nafsu merupakan alternative yang ditawarkan sebagai solusi krisis dunia modern.[12] Jadi, secara lahiriah dapat dipandang bahwa ilmu telah mampu memberikan sesuatu kepada umat manusia, namun secara batiniah ia belum mampu menyentuhnya; dan disinilah letak ajaran tasawuf untuk mengisi kekurangan itu.
Iman yang menjadi dasar setiap perbuatan sangat menentukan seseorang dalam memperoleh pengetahuan yang hakiki. Menurut kaum sufim ada beberapa tingkatan iman, tinagkatan yang paling rendah ialah percaya dengan hati, diikrarkan dengan lidah. Sedang tingkatan yang paling tinggi ialah sikap yang ditimbulkan keyakinan hati dan pekerjaan-pekerjaan yang diakibatkan oleh keyakinan itu, yang menguasai hati dan segenap panca indra dan mengatur itu semua sehingga setiap perbuatan selalu dijiwai dan dimotivasi oleh keyakinan tersebut. Tingkatan ini merupakan pengetahuan yang hakiki yang diberkan Tuhan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya. Keadaan yang seperti ini adalah keadaan di mana seorang hamba dapat merasakan kehaadiran di hadirat Tuhan dengan tersingkapnya tabir (hijab).
Menurut kaum sufi, sebab tersingkapnya tabir (hijab) itu ialah apabila orang itu dapat meninggalkan hal-hal yang bersifat lahiriah dan memusatkan dirinya terhadap hal-hal yang bersifat batiniah. Dengan melalui latihan tertentu, maka bertambah kuatlah kepekaan rohaninya dan menipis kepekaan indrawinya. Hal ini baru dicapai dalam rentang waktu yang relative panjang, melalui proses tahap demi tahap (maqamat) dan keadaan demi kead

PENUTUP

            Simpulan
            Ilmu pengetahuan mulai dibutuhkan manusia sejak manusia itu menerima tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan. Jadi, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Sumber ilmu pengetahuan dalam Islam adalah seluruh firman Allah yang bersifat qauliyah, yakni mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih, juga firman Allah yang bersifat kauniyah, yaitu semua ciptaan-Nya yang diyakini sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.
       Pada umumnya para sufi berbicara tentang tiga alat (sumber) ilmu pengetahuan, yaitu indera, akal dan hati (intuisi). Menurut para sufi, indera terbagi atas indera lahir dan indera batin. Kemudian Akal dipandang sebagai “mudabbir”(pengelola) yang dapat mengendalikan nafsu-nafsu, sehingga nafsu tersebut bisa membantu pertumbuhan spiritualitas seseorang. Dan Al-Ghazali mengumpamakan hati sebagai raja yang memiliki kedudukan tertinggi yang dapat mengontrol akal dan nafsu. Penyucian jiwa ini merupakan orientasi daripada tasawuf itu sendiri yang memberihkan jiwa manusia dari keserakahan hawa nafsu merupakan alternative yang dapat dijadikan sebagai krisis dunia modern.
            Bagi Maslow, intuisi merupakan pengalamn puncak (peak eksprience), sedangkan bagi Nietschze ia merupakan intelegensi yang paling tinggi. Dan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada para Rasul. Agama merupakan pengetahuan bukan saja yang mengenai kehidupan sekarang yang tejangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transedentalseperti latarbelakang penciptaan manisia dan hari kemudian di akhirat nanti.
Ali Abdul Azim mengatakan, para sufi sepakat bahwa pengetahuan yang benar di sini akan sempurna dengan jalan penglihatan mata hati (basirah) tang mendapat ilham dari Tuhan, bukan dengan jalan rasio dan panca indera. Imam Al- Ghazali di dalam kitabnya Al-Munqiz menjelaskan bagaimana panca indera dan akal dapat menyesatkan para pencari pengetahuan yang benar (al-ma’rifah); dan bahwa jalan satu-satunya untuk ma’rifah adalah dengan penglihatan mata hati yang mendapat sinar dari nur All

DAFTAR KEPUSTAKAAN



Asmaran  As. 2002.  Pengantar Studi Tasawuf.  Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.

Hasan Basri dan Beni Ahmad saebani.  2010.  Ilmu Pendidikan Islam (jilid II),. Bandung,  Pustaka Setia.

Mulyadhi Kartanegara. 2006  Menyelami Lubuk Tasawuf.  Jakarta,  Erlangga.

Ramayulis dan Samsul Nizar. 2009.  Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta,  Kalam Mulia.






[1] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h. 75
[2] Asmaran  As, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 26
[3]  Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[4] Hasan Basri dan Beni Ahmad saebani, Ilmu Pendidikan Islam (jilid II), (Bandung: Pustaka Setia, 2010), h. 18
[5] Ramayulis dan Samsul Nizar, op. cit., h. 78
[6] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, ( Jakarta: Erlangga, 2006), h. 84-86
[7] Ramayulis dan Samsul Nizar, op. cit., h.79
[8] Asmaran  As, op. cit., h. 26
[9] Ibid., h. 30-31
[10] Ibid., h. 32
[11] Mulyadhi Kartanegara, op.cit., h.128
[12] Asmaran  As, op. cit., h. 25