Jepang dan Korsel Tanggapi Komentar Trump Soal Senjata Nuklir


CALON Presiden Amerika dari Partai Republik Donald Trump memang dikenal sebagai calon kontroversial. Terakhir Trump menyatakan, jika dirinya terpilih jadi presiden, militer AS akan ditarik dari pantai Jepang dan Korea Selatan, dan akan digantikan oleh senjata nuklir.

Pernyataan Trump ini memicu reaksi dari Jepang dan Korea. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menanggapi secara terbuka, mengatakan, siapapun yang akan menjadi presiden Amerika berikutnya, aliansi militer adalah landasan diplomasi Jepang.

Jepang hingga saat ini adalah satu-satunya negara yang pernah menjadi korban senjata nuklir. Selain itu, Jepang juga memiliki kebijakan non-senjata nuklir serta konstitusi cinta damai sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Ini tigaskan oleh Menteri Luar Negeri Fumio Kishida.

“Jepang tidak mungkin mempersenjatai diri dengan senjata nuklir,” kata Kishida, dikutip CNN, Jumat (1/4/2016).

Sementara itu, mayoritas warga Korea Selatan menolak gagasan Trump. Hanya memiliki minoritas kecil yang berpikir Trump mungkin ada benarnya dan menyambut gagasan senjata nuklir.

Akademik Cheong Seong-Chang dari Sejong Institute misalnya, mengatakan, “Jika kita memiliki senjata nuklir, kami akan berada di posisi yang lebih baik untuk menangani Korea Utara.”

Namun, pemerintah Korea Selatan menolak ungkapan ini. Komentar Trump ini dianggap salah besar oleh Kementerian Luar Negeri Korsel, Duta Besar AS untuk Korsel dan bahkan Gedung Putih.

Selasa (29/3/2016) lalu, Trump menyatakan hal ini dalam wawancara dengan CNN.

“Jepang dan Korea Selatan lebih baik melindungi diri sendiri dari maniak Korea Utara,” kata Trump.

“Kami lebih baik terus terang jika Korea Selatan harus mulai melindungi dirinya sendiri. Mereka harus melindungi diri sendiri atau mereka harus membayar kita,” tambah Trump.

AS, Korea Selatan dan Jepang mengambil bagian dalam latihan militer bersama. Saat ini ada 54.000 tentara AS yang ditempatkan di Jepang dan 28.500 di Korea Selatan.

[islampos]