PENGERTIAN STUDY AL-QUR’AN, RUANG LINGKUP DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

PENGERTIAN STUDY AL-QUR’AN, RUANG LINGKUP DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

BAB I
PENDAHULUAN

Al-Qur’an  adalah sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Al-Qur’an bukan sekedar memuat petunjuktentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum min Allah wa hablum  min an-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (kaffah), diperlukan pemahamanterhadap kandungan Al-Qur’andan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, baik lafalmaupun uslub-nya. Suatu bahasa yang kaya kosakata dan sarat makna. Kendati Al-Qur’an berbahasa Arab, tidak berarti semua orang Arab atau orang yang mahir dalam bahasa Arab, dapat memahami Al-Qur’an secara rinci. Bahkan, para sahabat mengalami kesulitan untuk memahami kandungan Al-Qur’an, kalau hanya mendengarkan dari Rasulullah SAW, karena untuk memahami Al-Qur’an tidak cukup dengan kemampuan dan menguasai bahasa Arab saja, tetapi lebih dari itu harus menguasai ilmu penunjang (ilmu alat).
Hasbi Ash-Shiddieqi menyatakan untuk dapat memahami Al-Qur’an dengan sempurna, bahkan untuk menerjemahkannya sekalipun, diperlukan sejumlah ilmu pengetahuan, yang disebut ‘ulum Al-Qur’an.[1]
Dari keterangan di atas dapat penulis simpulkan bahwa ‘ulum Al-Qur’an atau kita sebut juga “Study Al-Qur’an” merupakan ilmu yang sangat penting untuk dimiliki oleh seseorang untuk bisa mengkaji lebih dalam lagi mengenai ayat-ayat Al-Qur’an.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Study/’Ulumul Qur’an
Secara etimologi, ‘ulum Al-Qur’an terdiri dua kata, yaitu ‘ulumdanAl-Qur’an. ‘Ulumadalah jamak dariAl-‘alim yang berarti ilmu, maka ‘ulum berarti ilmu-ilmu. Sedangkan kataAl-Qur’an, secara harfiah, berasal dari kata qara’a yang berarti membaca atau mengumpulkan. Kedua makna ini mempunyai maksud yang sama; membaca berarti juga mengumpulkan, sebab orang yang membaca bekerja mengumpulkan ide-ide atau gagasan yang terdapat dalam sesuatu yang ia baca. Maka perintah membaca dalam Al-Qur’an, seperti yang terdapat di awal Surah Al-‘Alaq, bermakna bahwa Allah menyuruh umat Islam mengumpulkan ide-ide atau gagasan yang terdapat di alam raya atau dimana saja, dengan tujuan agar si pembaca melalui gagasan, bukti atau ide yang terkumpul dalam pikirannya itu, memperoleh suatu kesimpulan bahwa segala yang ada ini diatur oleh Allah.
Berdasarkan pengertian di atas, maka secara bahasa kata ‘ulum Al-Qur’andapat diartikan kepada ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an.
Secara terminologi, Al-Qur’an berarti “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, sampai kepada kita secara mutawatir. Dimulai dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Nas, dan dinilai ibadah (berpahala) bagi setiap orang yangmembacanya”.
Jadi, ‘ulumul Qur’an secara istilah bermakna “Segala ilmu yang membahas tentang kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan turun, bacaan, kemukjizatan, dan lain sebagainya”. Ash-Shabuni mendefinisikan ‘ulumul Qur’an itu kepada “Kajian-kajian yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari aspek turun, pengumpulan, susunan, kodifikasi, asbab an-nuzul, Al-makki wa Al-madani, pengetahuan mengenai an-nasikh dan Al-mansukh, muhkam dan mutasyabihdan lain sebagainya segala pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Menurut Az-Zarqani, ‘ulumul Qur’an adalah “Kajian-kajian yang berhubungan dengan Al-Qur’an, dari aspek turun, susunan, pengumpulan, tulisan, bacaan, tafsir, mukjizat, nasikh dan mansukh, menolak syubhat darinya, dan lain-lain. Jadi, apa saja ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an adalah termasuk dalam perbincangan ‘ulumul Qur’an.[2]
Dari definisi yang ada tersebut ada perbedaan redaksi antara para ulama yang satu dengan ulama yang lain. Walaupun ada perbedaan, penulis melihat ada maksud yang sama, baik antara Ash-Shabuni maupun Az-Zarqani, yakni bahwa ‘ulum Al-Qur’an adalah sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
Mengenai kemunculan istilah ‘ulum Al-Qur’an untuk pertama kalinya, para penulis menyatakan bahwa istilah ini muncul pada abad VI Hijriah oleh Abu Al-Farj bin Al-Jauzi. Pendapat ini disitir pula oleh Asy-Suyuthi dalam pengantar kitabAl-itqan. Az-Zarqani menyatakan bahwa istilah itu muncul pada awal abad V Hijriah melalui tangan Al-Hufi (w. 430 H) dalam karyanya yang berjudulAl-Burhan fi‘ulum Al-Qur’an.
Analisis lain dikemukakan oleh Abu SyahbahDengan merujuk kepada kitab Muqaddimatanifi ‘ulumA1-Qur’an yang dicetak tahun 1954 dan diedit oleh Arthur Jeffri, seorang orientalis kenamaan, Syahbah berpendapat bahwa istilah ‘ulum Al-Qur’an muncul dengan ditulisnya kitabAl-Mabani fi Nazhm Al-Ma’aniyang ditulis tahun 425 H (abad V H). Sayangnya, penulis kitab itu belum ditemukan sampai sekarang. Kitab yang hasil cetakannya mencapai 250 halaman itu menyajikan pembahasan-pembahasan tentang makki-madani, nuzul Al-Qur’an, kodifikasi Al-Qur’an, penulisan dan mushaf, penolakan terhadap berbagai keraguan menyangkut pengkodifikasi Al-Qur’an dan penulisan mushaf, jumlah surat dan ayat, tafsir, ta’wil, muhkam-mutasyabih, turunnya Al-Qur’an dengan tujuh huruf (sab’ah ahruf) dan pembahasan-pembahasan lainnya. Lebih lanjut, Syahbah mengkritik analisis yang dikemukakan oleh Az-Zarqani. Kritiknya itu menyangkut embel-embel“‘ulum Al-Qur’an”pada kitab Al-Burhan fi ‘ulum Al-Qur’an yang dinyatakan oleh Az-Zarqani sebagai kitab‘ulum Al-Qur’an yang pertama kali muncul. Persoalannya, Az-Zarqani menyatakan juz I kitab itu hilang. Lalu, dari mana ia memperoleh nama kitab itu? Tetapi setelah dilakukan pengecekan terhadap kitab KasyfAzh-Zhunun, menurut Syahbah, ternyata kitab itu bernama Al-Burhan fi Tafsir Al-Qur’an. Pendapat lain dikemukakan Subhi Al-ShaliH Ia berpendapat bahwa istilah ‘ulum Al-Qur’an sudah muncul semenjak abad III H, yaitu ketika Ibn Al-Marzuban menulis kitab yang berjudul Al-Hawi fi ‘ulum Al-Qur’an.[3]
B.     Ruang Lingkup Kajian ‘Ulumul Qur’an
Definisi di atas menggambarkan bahwa ‘ulumul Qur’an mencakup
bahasan yang sangat luas, antara lain ilmu nuzul Al-Qur’an, asbab Al-
nuzul, qira’ah
, ilmu an-nasikh wa Al-mansukh dan ilmufawatih as-suwarsertamasih banyak yang lainnya. Karena begitu luasnya cakupan kajian ‘ulumul qur’an,makaparaulamaharusmengakhiri definisiyangmereka buat dengan ungkapan “dan lain-lain”. Ungkapan ini menunjukkan, kajian ‘ulumulQur’an tidak hanya hal-hal yang disebutkan dalam definisi itu saja, tetapi banyak hal yang secara keseluruhan tidak mungkin disebutkan dalam definisi. Ibnu Arabi (w 544 H), seperti yang dikutip oleh Az-Zarkasyi, menyebutkan, ‘ulumul Qur’an mencakup 77.450 ilmu sesuai dengan bilangan kata-katanya.Hal itu sesuai dengan pendapatsebagian kaum salaf yang melihat  bahwa setiap kata dalam Al-Qur’an mempunyai makna lahir dan batin, selain itu terdapat pulahubungan-hubungan dan susunan-susunannya. Maka dengan demikian, ilmu ini tidak terkira banyaknya dan hanya Allah sajalah yang mengetahuinya secara pasti.[4]
Berkenaan dengan persoalan ini, M. Hasbi Ash-Shiddieqy berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasan ‘ulum Al-Qur’an terdiri dari enam hal pokok berikut ini:
1.      Persoalan Turunnya Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an) Persoalan ini menyangkut tiga hal:
a.       Waktu dan tempat turunnya Al-Qur’an (auqat nuzul wa mawithin an­nuzul),
b.      Sebab-sebab turunnya Al-Qur’an (asbab an-nuzul),
c.       Sejarah turunnya Al-Qur’an (tarikh an-nuzul).
2.      Persoalan Sanad (Rangkaian Para Periwayat)
Persoalan ini menyangkut enam hal:
a.       Riwayat mutawatir,
b.      Riwayat ahad,
c.       Riwayat syadz,
d.      Macam-macam qira’at Nabi,
e.       Para perawi dan penghapal Al-Qur’an,
f.       Cara-cara penyebaran riwayat (tahammul)
3.      Persoalan Qira’at (Cara Pembacaan Al-Qur’an)
Persoalan ini menyangkut hal-hal berikut ini:
a.       Cara berhenti (waqaf),
b.      Cara memulai (ibtida),
c.       Imalah,
d.      Bacaan yang dipanjangkan (madd),
e.       Meringankan bacaan hamzah,
f.       Memasukkan bunyi huruf yang sukun kepada bunyi sesudahnya (idgham).
4.      Persoalan Kata-Kata Al-Qur’an
Persoalan ini menyangkut beberapa hal berikut:
a.       Kata-kataAl-Qur’an yang asing (gharib),
b.      Kata-kata Al-Qur’an yang berubah-ubah harakat akhirnya (murab),
c.       Kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai makna serupa (homonim),
d.      Padanan kata-kataAl-Qur’an (sinonim),
e.       Isti’arah,
f.       Penyerupaan (tasybih).
5.      Persoalan Makna-Makna Al-Qur’an yang Berkaitan dengan Hukum Persoalan ini menyangkut hal-hal berikut:
a.       Makna umum (‘am) yang tetap dalam keumumannya,
b.      Makna umum (‘am) yang dimaksudkan makna khusus,
c.       Makna umum (‘am) yang maknanya dikhususkan sunnah,
d.      Nash,
e.       Makna lahir,
f.       Makna global (mujmal),
g.      Makna yang diperinci (mufashshal),
h.      Makna yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan (manthuq),
i.        Makna yang dapat dipahami dari konteks pembicaraan (mafhum),
j.        Nash yang petunjuknya tidak melahirkan keraguan (muhkam),
k.      Nash yang muskil ditafsirkan karena terdapat kesamaran di dalamnya (mutasyabih),
l.        Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat pada kata itu sendiri (musykil),
m.    Ayat yang “menghapus” dan yang “dihapus” (nasikh-mansukh),
n.      Yang didahulukan (muqaddam),
o.      Yang diakhirkan (muakhakhar).
6.      Persoalan Makna-Makna Al-Qur’an yang Berpautan dengan Kata-kata Al-Qur’an
Persoalan ini menyangkut hal-hal berikut ini:
a.       Berpisah (fashl),
b.      Bersambung (washl)
c.       Uraian singkat (i’jaz)
d.      Uraian panjang (ithnab)
e.       Uraian seimbang (musawah)
f.       Pendek (qashr)[5]

C.    Cabang-cabang (Pokok Bahasan) ‘UlumAl-Qur’an)
Di antara sekian banyak cabang ‘ulumAl-Qur’antersebut, terdapat 17 cabang di antaranya yang paling penting, adalah:
1.      Ilmu MawatinAn-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat.
2.      Ilmu Tawarikh An-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan dan menjelaskan tentang masa turun ayat dan tertib turunnya.
3.      Ilmu Asbab An-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan sebab-sebab yangmelatarbelakangi turun ayat.
4.      IlmuQira’ah, yaitu ilmu yang menerangkan tentang macam-macam bacaan Al-Qur’an, mana yang shahih dan tidak shahih.
5.      Ilmu Tajwid, yaitu ilmu tentang cara membaca Al-Qur’an, tempat memulai dan pemberhentiannya, dan lain-lain.
6.      Ilmu Garib Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang makna kata-kata (lafal) yang ganjil, yang tidak lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari.
7.      Ilmu I’rab Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang kedudukan suatu lafal dalam kalimat (ayat), begitu pula tentang harakatnya.
8.      Ilmu Wujuh waAn-Naza’ir, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang lafal-lafal dalam Al-Qur’an yang memiliki banyak arti, dan menerangkan makna yang dimaksud pada suatu tempat.
9.      Ilmu Ma’rifah Al-MuhkamwaAl-Mutasyabih, yaitu ilmu yang membahas tentang ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih.
10.  Ilmu Nasikh wa Mansukh, yaitu ilmu yang menerangkan tentang ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian ulama.
11.  Ilmu Badai Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang keindahan susunan ayat-ayat Al-Qur’an, menerangkan aspek-aspek kesusasteraan Al-Qur’an, serta ketinggian balaghahnya.
12.  Ilmu I’jaz Al-Qur’an, yaitu ilmu yang secara khusus membahas tentang segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an.
13.  Ilmu Tanasuh Ayat Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang kesesuaian suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
14.  Ilmu Aqsam Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang arti dan tujuan sumpah Tuhan dalam Al-Qur’an.
15.  Ilmu Amsal Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam Al-Qur’an.
16.  Ilmu Jidal Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang bentuk-bentuk perdebatan yang dikemukakan dalam Al-Qur’an yang ditujukan kepada segenap kaum musyrikin, dan lain-lain.
17.  Ilmu adab tilawah Al-Qur’an, yaitu ilmu yang membahas segala aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan dalam membaca Al-Qur’an.
Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang demikian banyak, amat penting dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an, sehingga sebagian ulama menyebutkan‘ulum Al-Qur’an dengan istilah usul at-tafsir, dan nama-nama ilmu tafsir.[6]
D.    Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’an
1.      Ilmu-ilmu Al-Qur’an di Masa Rasul dan Khulafa’ Rasyidin
Ilmu-ilmu Al-Qur’andi masa Rasul, Abu Bakar ra. dan ‘Umar ra. Disampaikan dengan jalan talqin dan musyafahah, dari mulut ke mulut.
Di dalam masa pemerintah Utsman, mulailah bangsa Arab bergaul rapat dengan bangsa Ajam. Utsman menyuruh para sahabat dan para umat supaya berpegang kepada mushaf Al imam dan supaya dari  mushaf itulah disalin mushaf-mushaf yang dikirim ke kota-kota besar, serta membakar mushaf-mushaf yang lain yang tidak bersumberdari mushaf Al Imam itu.
Tindakan Utsman ini, merupakan awal berkembangnya ilmu yangkemudian dinamakan ilmu Rasmil Qur’an atau ilmu Rasmil Utsmany.
Dan telah masyhur dalam sejarah Islam pula bahwasanya Ali ra. menyuruh Abul Aswad ad-Dualy (wafat tahun69 H), membuat beberapa kaidah untuk memelihara keselamatan bahasa Arab. Maka dengan demikian dapatlah kita menetapkan bahwasanya Ali adalah peletak batu pertama bagi ilmu I’rabul Qur’an.
Kemudian dengan memperhatikan sejarah pertumbuhan ilmu, dapatlah kita menetapkan bahwa tokoh-tokoh ilmu yang berkembangnya ilmu-ilmu Al-Qur’anialah:
Dari golongan sahabat:
1.      Khulafa’ Rasyidin (khalifah empat)
2.      Ibnu Abbas
3.      Ibnu Mas’ud
4.      Zaid ibn Tsabit
5.      Ubay ibn Ka’ab
6.      Abu MusaAl Asy’ari
7.      Abdullah ibn Zubair
Dari golongan tabi’in:
1.      Mujahid
2.      Atha’ibn Yasar
3.      Ikrimah
4.      Qatadah,
5.      Al Hasanul Bishry
6.      Said ibn Jubair
7.      Zaid ibn Aslam
Dari golongan tabi’in-tabi’in, ialah Malik ibn Anas. Beliau mengambil ilmu ini dari Zaid ibn Aslam.
Merekalah tokoh-tokoh yang meletakkan dasar ilmu-ilmu yang kita namakan:
1.      Ilmu Tafsir
2.      Ilmu Asbabun Nuzul
3.      IlmuMakky wal Madany
4.      Ilmun Nasikh wal Mansukh
5.      Ummul ‘Ulumil Qur’aniyah
Di dalam masa pentadwinan (kodifikasi) ilmu, tafsirlah yang mendapat prioritas pertama, karena dialah Ummul Ulumil Qur’aniyah (induk ilmu-ilmu Al-Qur’an).

2.      Tokoh-tokoh Tafsir dalam Abad Kedua Hijriyah
Di  antara tokoh-tokoh ilmu yang memperhatikan ilmu tafsir dan menyusunnya, ialah:
a.       Syubah ibn Al Hajjaj (wafat tahun 1610 H).
b.      Sufyan ibn Uyainah Al Kufy (wafat tahun 198 H).
c.       Waki’ ibn Al Jarrah Al Kufy (wafat tahun 197 H).
Tafsir-tafsir mereka, merupakan kodifikasi (himpunan) pendapat-pendapat dari para sahabat dan tabi’in.
Mereka disusul oleh Ibnu Jarir Ath Thabary, seorang tokoh tafsir yang besar dalam abad ketiga Hijriah, (wafattahun3l0 H).Tafsirnya adalahtafsir yang paling, tinggi nilainya di antara kitab-kitab tafsir, karena meliputi riwayat-riwayat yang shahih, terurai dengan baik, i’rab, istinbath dan pendapat-pendapat para ulama yang berharga.
Tafsir-tafsir tersebut ini tergolong ke dalam golongan tafsir bil ma’tsuratau tafsir bil manqul.
Di samping tafsir-tafsir bil manqul ini, muncul pula aliran tafsir bir ra’yi(bilma’qul).
Tentang penaftsiran-penafsiran Al-Qur’anpada masa itu, maka ada yang menafsirkan seluruhnya, ada yang menafsirkan suatu juz daripadanya, ada yang menafsirkan suatu surat saja, bahkan ada yang menafsirkan suatu ayat atau ayat-ayat tertentu, sepertiayatul ahkam.


3.      Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang Tumbuh dalam Abad Ketiga Hijriah
Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang selain dari ilmu tafsir, disusun dalam abad ke-3 H Dalam abad ketiga lahirlah ilmu AsbabunNuzul, ilmu Nasikh wal Mansukh, ilmu Ma nuzzila bil Makkata wama nuzzila bil Madinati.
Di antara yang menyusun ilmu-ilmu Al-Qur’andalam abad ketiga Hijriah, ialah:
a.       Ali Ibnul Madiny (wafat tahun 234 H). Beliau menyusun kitab dalam ilmu Asbabun Nuzul.
b.      Abu Ubaid Al Qasim ibn Salam (wafat tahun 224 H). Beliau menyusun kitab tentang ilmu An Nasikh wal Mansukh, ilmu AI Qua-at dan tentang ilmu Fadha-ilul Qur’an.
c.       Muhammad ibn Ayyub Adh Dhirris (wafat tahun 294 H). Beliau mewyrusun kitab tentang ilmu Ma nuzzila bil Makkata wa ma mizzila bil MadinaH
d.      Muhammad Ibn Khalaf ibn Al Marzuban (wafat tahun 309 H). Kitabnya bernama Al Hawi fi Ulumil Qur’an.

4.      Ilmu-ilmu Al-Qur’anyang Tumbuh dalamAbad Keempat Hijriah
Di dalam abad ini lahirlah ilmu Gharibil Qur’an dan beberapa
kitab dalam ‘ulumul Qur’an.
Di antaratokoh-tokoh ilmu Al-Qur’andalam abad keempat
Hijriah ialah:
a.       Abu Bakar Muhammad ibn Al Qasim Al Anbary (wafat tahun 328 H): Beliau menyusun kitab yang dinamakan Aja-ibu ulumil Qur’an. Di dalamnya beliau membahas tentang Fadha`ilulQur’­an, tentang turunnya Al-Qur’an atas tujuh huruf, tentang menulis mushaf dan bilangan surat, ayat dan kalimat.
b.      Abu Hasan Al-Asy’ary (wafat tahun 324 H). Kitabnya dinamakan Al Mukhtazan fi ‘ulumil Qur’an, sebuah kitab yang besar.
c.       Abu Bakar As Sijistany (wafat tahun 330 H). Beliau menyusun sebuah kitab dalam ilmu Gharibul Qur’andan dinamakannya Gharibul Qur’an.
d.      Abu Muhammad Al Qashshab Muhammad ibn Ali Al Karakhi (wafat tahun 360 H). Kitabnya dinamakan NuqatulQur’anAd Dallatualal Bayani fi Anwa’il ‘Ulumi wal Ahkamil Munbi-ati an Ikhtilafil Anam.
e.       Muhammad Ibn Ali Al Adfuwi (wafattahun 388 H). Kitabnya dinamakan Al Istighna fi ulumil Qur’an.

5.      Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang Tumbuh dalamAbad KelimaHijriyah
Di dalam abad kelima Hijriyah, disusun lagi beberapa kitab di dalam Ulumul Qira’at dan lahir pula beberapa tokoh.Di antaranya, ialah:
a.      Abu Amar Ad Dany (wafat tahun 344 H). Kitabnya bernama At Taisir bil Qira-atis Sab’i, dan Al Muhkamu fin Miqath.
b.      Ali ibn Ibrahim ibn Said Al Hufy (wafat tahun 430 H). Beliau menyusun dua buah kitab, yang pertama bernama Al Burhan fi ulumil Qur’an dan yang keduaI’rabul Qur’an.
Di antara ilmu yang lahir dalam abad ini, ialah ilmu Amtsalul Qur’an, yang membahascontoh-contoh yang terdapat dalam Al-Qur’an. 
Di antara yang menyusun ilmu ini ialah AlMawardy (wafat tahun 450 H).
6.      Ilmu-ilmu Al-Qur’an yang Tumbuh dalam Abad Keenam dan Ketujuh Hijriyah 
Di antara tokoh-tokoh ilmu Al-Qur’andalam abad keenam ialah:
a.       Abdul Qasim Abdur Rahman, yang terkenal dengan nama As Suhaily (wafat tahun 582 H). Kitabnya bernama Muhammatul Qur’an, atau bernama At Ta’rifu wa I’lamu bima Ubhima fil Qur’­an minal Asma-i wal A’lam.
b.      Ibnui Jauzy (wafat tahun 597 H). Beliau menyusun dua buah kitab, yaitu: Fununul Afnan fi ‘Aja-ibi Ulumil Qur’an dan Al Mujtaba fi Ulumin Tata’allaqu bil Qur’an.
Di antara tokoh-tokoh ilmu Al-Qur’an dalam abad ketujuh ialah:
a.       Alamuddiln As Sakhawy (wafat tahun 643 H). Kitabnya mengenai qira’at yang dinamakanHidayatul Murtab fil Mutasyabihi, yang terkenal dengan nama Manzumah As Sakhawiyah. Dan beliau mempunyai sebuah kitab pula yang dinamakan           Jamalul Qura-y wa Kamalul Iqra’i yang membahas ilmu-ilmu qira’at, tajwid, wakaf, ibtida’, nasikhdan mansukh.Kitabnya yang terkenal ialah As Sakhawiyah, yang disusun dengan cara bernazham (bersajak).
b.      Ibnu Abdis Salam, yang terkenal dengan nama Al-Izz (wafat tahun 660 H). Kitabnya bernama Majazul Qur’an. Beliau menyusun kitab dalam majazul Qur’an.
c.       Abu Syamah Abdur Rahman ibn Ismail Al Maqdisy (wafat tahun 665 H). Kitabnya bernama Al Mursyidul Wajiz fima Yata’allaqu bil Qur’anil Aziz.
Kemudian tumbuhlah beberapa ilmu barumengenai Al-Qur’an, di antaranya ialah:
a.       Ilmu Bada-i’ul Qur’an, yang membahas tentang aneka macam badi’yang terdapat dalam Al-Qur’an. Di antara para penyusun ilmu iniialah ibnu AbilIshba’.
b.      Ilmu  Hujajil Qur’an, yang dinamakan juga dengan ilmu Jadalil Qur’an, yangmemperkatakan hujjah-hujjah dan dalil-dalil yangdipergunakan Al-Qur’an dalam menetapkan sesuatu. Di antara ulama yang menyusun ilmu ini ialah, Najmuddin Ath-Thufy, (wafat tahun 716 H).
c.       Aqsamul Qur’an, yang membahassumpah-sumpah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Di antara yang menyusun kitab ini, ialah Ibnul Qayyim (wafat tahun 752 H).
Jalan yang mereka tempuh dalam menyusun kitab ini, ialah menelitisatu per satu juz’iyah-juz’iyah Al-Qur’an. Oleh karenanya haruslah kita ringkaskan ilmu-ilmu ini, dalam suatu ilmu yang lengkap yang kita namakan Ulumul Qur’an.
Dalam percakapan yang terjadi antara Harun Ar Rasyid dengan Asy Syafi’i, dapat kita tangkap bahwa Asy Syafi’i berpendapat bahwa ilmu-ilmuAl-Qur’anbanyak, seperti: ilmu Mansukhil Qur’an,ilmu Mutasyabihil Qur’an, ilmu Nasikhil Qur’an dan lain-lain.
7.      Ilmu-ilmu Al-Qur’anAbad Kedelapan dan Kesembilan Hijriyah
Di antara para ulama yang menyusun kitab dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dalam abad kedelapan ialah: Badruddin Az Zarkasyi (wafat tahun 794 H). Kitabnya bernama Al Burhan fi Ulumil Qur’an. (Kitab ini telah diterbitkan oleh Muhammad Abul Fadhli Ibrahim, serta ditahqiqkannya).
Dalam abad kesembilan Hijriyah, lahirlah banyak karya dalam bidang, ini. Di antara yang menulis kitab dalam bidang ini, ialah:
a.       Muhammad ibn Sulaiman Al Kafiyajy (wafat tahun 873 H). Di dalamnya diterangkan makna tafsir, takwil, Al-Qur’an, surat dan ayat. Juga di dalamnya diterangkan tentang syarat-syarat menafsirkan Al-Qur’an dengan ar ra’yu. Kitabnya bernamaAt Tafsir fi Qawaidit Tafsir.
b.      JalaluddinAlBulqiny (wafattahun 824 H).Kitabnya bernamaMawaqi’ul Ulum min Mawaqi’in Nujum.
c.       As Sayuthy (wafat tahun 911 H). Kitabnya bernama At Tahbir fi Ulumit Tafsir, yang kemudian disusuli dengan kitabnya yang dinamakan Al Itqan fi Ulumil Qur’an.[7]

8.      Perkembangan ‘Ulum Al-Qur’anAbad Keempat BelasHijriah
Setelah memasuki abad XIV H, bangkitlah kembali perhatian ulama dalam penyusunan kitab-kitab yang membahas Al-Qur’an dari berbagai segi. Kebangkitan ini di antaranya dipicu oleh kegiatan ilmiah di Universitas Al-Azhar Mesir, terutama ketika universitas ini membuka jurusan-jurusan bidang studi yang menjadikan tafsir dan hadis sebagai salah satu jurusannya.
Ada sedikit pengembangan tema pembahasan yang dihasilkan para ulama abad ini dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya. Pengembangan itu di antaranya berupa penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa-bahasa Ajam.
Pada abad ini, perkembangan‘ulumAl-Qur’an pun diwarnai oleh usaha-usaha menebarkan keraguan di seputarAl-Qur’an yang dilakukan oleh kalangan orientalis atau oleh orang Islam sendiri yang dipengaruhi oleh orientalis. Salah satunya adalah Thaha Husein dalam karyanya Asy-Syi’ri Al-Jahili.
Di dalam karya itu, Husein menebarkan berbagai keraguan di seputarAl-Qur’an. Bantahan terhadapnya telah dilakukan­umpamanyaoleh Ustadz Syekh Muhammad Al-Khidr Husein, salah seorang Syekh Al-Azhar.
Di antara karya-karya’ulum Al-Qur’an yang lahir pada abad ini adalah:
1)      Syekh ThahirAl-Jazairi yang menyusun kitab At-Tibyan fi ‘UlumAl-Qur’anyang selesai pada tahun 1335 H
2)      JamaluddinAl-Qasimy (w. 1332 H) yang menyusun kitab MahasinAl-Ta’wil. Juz pertama kitab ini dikhususkan untuk pembicaraan ‘Ulum Al-Qur’an.
3)      Muhammad‘Abd Al-’Azhim Az-Zarqani yang menyusun kitab Manahil Al­‘Irfan fi ‘ulum Al-Qur’an (2 jilid).
4)      Muhammad‘Ali Salamah yang menyusun kitab ManhajAl-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
5)      Syeikh Tanthawi Jauhari yang menyusun kitabAl-Jawahirfi TafsirAl-Qur’an dan Al-Qur’an wa‘Ulum Ashriyyah
6)      Mushthafa Shadiq Ar-Raf i’i yang menyusun kitab IjazAl-Qur’an.
7)      Ustadz Sayyid Quthub yang menyusun kitab At-TashwirAl-Fani fiAl-Qur’an.
8)      Ustadz Malik bin Nabi yang menyusun kitabAz-ZhahirahAl-Qur’aniyah.Kitab ini sangat penting dan banyak berbicara mengenai wahyu.
9)      Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha yang menyusun kitab TafsirAl-Qur’an Al-Hakim yang terkenal pula dengan nama Tafsir Al-Manar. Di dalamnya banyakjuga penjelasan tentang‘ulum Al-Qur’an.
10)  Syekh Muhammad ‘Abdullah Darraz yang menyusun kitab An-Naba’Al- `Azhim‘anAL-Qur’anA1-Karim: Nazharat Jadidah fi Al-Qur’an.
11)  DR. Subhi As-Salih, Guru Besar Islamic Studies dan Fiqhu Lugah pada FakultasAdab Universitas Libanon, yang menyusun kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Kitab ini selain membahas ‘ulum Al-Qur’an, juga menanggapi secara ilmiah pendapat-pendapat orientalis yang dipandang salah mengenai berbagai masalah yang berhubungan dengan Al-Qur’an.
12)  Syekh Mahmud Abu Daqiqi yang menyusun kitab ‘Ulum Al-Qur’an.
13)  Syekh Muhammad‘Ali Salamah, yang menyusun kitab ManhajAl-Furqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.
14)  Ustadz Muhammad Al-Mubarak yang menyusun kitabAl-Manhal Al-Khalid.
15)  Muhammad Al-Ghazali yang menyusun kitab Nazharat fiAl-Qur’an.
16)  Syekh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang menyusun sebuah risalah yang menerangkan kebolehan kita menerjemahkan Al-Qur’an. Ia pun menulis kitab TafsirAl-Maraghi.[8]


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
‘Ulum Al-Qur’an merupakan ilmu yang pokok bagi seseorang untuk bisa memahami ayat-ayat Al-Qur’anul Karim. Dengan ilmu tersebut, seseorang khususnya seorang mufassir, bisa mengetahui dan menjelaskan hikmah-hikmah yang terkandung dalam ayat tersebut.
‘Ulum Qur’an merupakan suatu kajian yang amat dalam, karena dalam kajian tersebut banyak terkandung ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi, ‘Ulumul Qur’an mencakup 77.450 ilmu.(https://sakura-ilmi.blogspot.co.id)


0 Response to "PENGERTIAN STUDY AL-QUR’AN, RUANG LINGKUP DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA"

Post a Comment