Kejujuran Yang Mengundang Hidayah

Kejujuran Yang Mengundang Hidayah

Seorang anak remaja bermaksud membajak ladangnya untuk ditanami sesuatu, ia berjalan mengiringi lembunya yang berjalan di depannya. Saat itu pagi hari tepat tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah yang mulia di mana kaum muslimin yang sedang beribadah haji bersiap-siap untuk wuquf di Padang Arafah. Tanpa diduga-duga, tiba-tiba lembu itu menoleh kepada pemuda yang berjalan mengikutinya, dan berkata, “Wahai Abdul Qadir, engkau tidak dijadikan untuk ini, dan engkau tidak diperintahkan untuk mengerjakan ini!!”

Pemuda tersebut memang Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, seorang ulama dan tokoh sufi yang di kemudian hari melahirkan Thariqah al Qadiriyah yang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Abdul Qadir remaja itu sangat terkejut dan ketakutan mendengar “teguran” dari sang lembu itu, ia berlari pulang dan bersembunyi di suthuh (loteng) rumahnya. Ia merenungi peristiwa yang baru saja dialaminya, tetapi lagi-lagi ia melihat peristiwa luar biasa. Dari tempatnya tersebut, ia melihat pemandangan orang-orang yang sedang bergegas berangkat ke Arafah untuk melakukan wuquf, padahal tempat tinggalnya tersebut sangat jauh dari Makkah, yakni di Jilan, di tepi sungai Dajlah di daerah Thabaristan, termasuk wilayah Irak sekarang ini. 

Abdul Qadir yang memang cerdas itu langsung bisa menangkap ‘isyarah’ dari apa yang dialaminya secara beruntun tersebut. Ia mendatangi ibunya, orang tua yang tinggal satu-satunya yang sangat dipatuhinya itu, dan berkata, “Wahai ibu, serahkanlah aku kepada Allah dan ijinkanlah aku pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu dan berziarah kepada orang-orang shalih di sana…!!”

Tentu saja ibunya yang bernama Fathimah itu terkejut dengan sikap dan permintaan anaknya yang begitu tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Sang ibu berkata, “Wahai anakku, kenapa engkau tiba-tiba berkata seperti itu!!”

Abdul Qadir menceritakan peristiwa yang dialaminya pada hari itu, dan ibunya menangis penuh haru sekaligus pilu mendengarnya, tangisan bahagia dan sedih. Bahagia, karena ia yakin anaknya tersebut akan memperoleh derajad yang mulia di sisi Allah, sebagaimana “pesan/isyarat” yang dikandung dari peristiwa yang diceritakannya itu. Sedih, karena ia harus berpisah dengan putra kesayangannya itu, dan belum tentu akan bertemu di kemudian hari. Tetapi sebagai seorang ibu yang sholihah, ia merasa bahwa sudah merupakan kehendak Allah anaknya akan menjalani kehidupan terpisah dengan dirinya, karena itu ia harus merelakan dan meridhoinya.

Fathimah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepergiannya anaknya tersebut. Ia juga telah menghubungi kafilah dagang yang akan berangkat ke Baghdad untuk “menitipkan” Abdul Qadir kepada mereka hingga sampai di sana. Sebelum meninggal, suaminya itu telah mewasiatkan 80 dinar untuk keperluan dua anaknya saat dewasa, karena itu ia mengambil 40 dinar untuk bekal Abdul Qadir. Ia membuat saku rahasia pada bajunya di bagian bawah ketiaknya, dan meletakkan uang tersebut dan menjahitnya sehingga tidak mungkin jatuh atau hilang dari baju anaknya. 

Pada waktu yang ditentukan kafilah akan berangkat, ibunya berpesan kepada Abdul Qadir untuk selalu berkata benar dan berlaku jujur dalam keadaan apapun. Ketika ia berangkat dan mengucapkan selamat tinggal, ibunya berkata, “Berangkatlah wahai anakku, aku telah menitipkan engkau kepada Allah. Mungkin wajahmu takkan pernah kulihat lagi hingga datangnya hari kiamat!!”

Di tengah perjalanan, ketika kafilah itu meninggalkan suatu daerah bernama Hamadan, sekelompok orang berkuda berjumlah enampuluh mengepung kafilah tersebut. Ternyata mereka adalah para perompak yang akan menjarah kafilah tersebut, tidak ada seorangpun kecuali diambil dan dikuras hartanya. Tetapi Abdul Qadir dibiarkan begitu saja karena ia tampak miskin dan tidak membawa apa-apa. Ternyata ada salah seorang perompak yang secara iseng bertanya kepadanya, “Wahai anak yang miskin, apakah engkau membawa sesuatu?”

Abdul Qadir berkata, “Saya memiliki empatpuluh dinar!!”

“Dimana?” Tanya perompak itu.

“Terjahit di dalam saku di bawah ketiakku!!” 

Tampaknya perompak itu menganggap Abdul Qadir bergurau atau hanya mengejek, karena itu ia tidak mempercayai atau menanggapinya secara serius. Bisa dimaklumi, dinar adalah uang emas, satu dinar itu hampir empat gram emas dengan kadar 22 karat. Kalau empatpuluh dinar, berarti hampir seratus enampuluh gram emas. Dengan kurs sekarang, seandainya 22 karat harganya sekitar Rp 250.000, berarti senilai Rp 40 juta. Dengan penampilan seperti itu, tentu saja ia tidak percaya Abdul Qadir mempunyai uang sebanyak itu.

Beberapa orang perompak lain yang melihatnya sempat menanyakan hal yang sama, dan Abdul Qadir tidak pernah merubah jawabannya. Ketika para perompak berkumpul di depan pimpinannya, mengumpulkan hasil jarahannya, sang pemimpin berkata, “Apakah harta mereka sudah kalian ambil?”

“Sudah semua, hanya saja ada seorang pemuda yang tampak miskin mengaku memiliki empatpuluh dinar, tetapi saya tidak mempercayainya!!”

Beberapa perompak lainnya juga menyatakan hal yang sama, maka sang pemimpin memerintahkan agar ia didatangkan. Abdul Qadir dihadapkan kepada sang pemimpin, yang langsung berkata, “Kau membawa apa?”

Lagi-lagi ia memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya, maka sang pemimpin memerintahkan anak buahnya untuk menggeledahnya. Mereka menemukan empatpuluh dinar itu tepat seperti yang dikatakan Abdul Qadir. Sang pemimpin tampak tercenung tak percaya melihat anak muda di depannya. Setelah empatpuluh dinar itu ditaruh di depannya oleh anak buahnya,ia berkata, “Wahai anak muda, mengapa engkau mengakui memilikinya, dan tidak berbohong agar hartamu tidak kami rampas?”

Abdul Qadir berkata, “Ibuku berwasiat agar aku selalu berkata benar dan berlaku jujur dalam keadaan apapun, dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku kepada beliau!!”

Pemimpin perompak itu langsung menangis mendengar jawaban Abdul Qadir, dan berkata sambil terisak-isak, “Engkau tidak pernah sekalipun mengingkari janjimu kepada ibumu, sedang aku telah bertahun-tahun ‘mengingkari’ Allah, selalu menyalahi dan melanggar larangan Allah!! Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah!!”

Para anak buahnya yang memang ikut terperangah kagum dengan kejujuran Abdul Qadir itu, berkata kepada pimpinannya, “Engkau adalah pemimpin kami dalam kejahatan (perompakan), maka engkau adalah pemimpin kami pula dalam bertaubat!!”

Para perompak yang bertaubat itu mengembalikan hasil jarahannya kepada kafilah tersebut, dan mengakui Abdul Qadir yang masih muda, bahkan belum mulai menuntut ilmu itu sebagai gurunya dalam kebaikan karena kejujurannya.


0 Response to "Kejujuran Yang Mengundang Hidayah"