ANTARA OPINI DAN FAKTA: KENAPA KITA MUDAH PERCAYA TANPA BERTANYA?
ANTARA OPINI DAN FAKTA: KENAPA KITA MUDAH PERCAYA TANPA BERTANYA?
Penulis,
Nama Lengkap : Syifa Nayada Nurazra
NIM : 183251079
Prodi : Biologi
Fakultas : Sains Teknologi
Mahasiswa Unair
Di era digital, informasi datang
tanpa jeda. Dalam satu hari, kita bisa menerima ratusan bahkan ribuan pesan, dari
berita, opini, hingga potongan video yang diklaim sebagai “fakta”. Anehnya,
semakin banyak informasi yang kita terima, semakin sedikit waktu yang kita
gunakan untuk mempertanyakannya.
Kita membaca, lalu percaya. Kita
melihat, lalu menyimpulkan. Tanpa sadar, kita hidup dalam dunia di mana opini
sering kali disamakan dengan fakta.
Lalu muncul pertanyaan penting: kenapa kita begitu
mudah percaya tanpa bertanya?
Ketika Semua Orang Bisa Jadi “Sumber Kebenaran”
Dulu, informasi melewati proses
panjang sebelum sampai ke publik—ada verifikasi, ada editor, ada standar.
Sekarang, siapa pun bisa menjadi “penyampai berita”. Cukup dengan satu unggahan
di Instagram, satu thread di X, atau satu video di TikTok, sebuah opini bisa
terlihat seperti fakta.
Masalahnya, tidak semua orang
memiliki kapasitas atau niat untuk menyampaikan kebenaran. Banyak informasi
yang dibagikan tanpa verifikasi, bahkan terkadang sengaja dipelintir demi
perhatian atau sensasi. Dalam kondisi seperti ini, batas antara fakta dan opini
menjadi kabur.
Kebiasaan Menelan Mentah Informasi
Salah satu penyebab utama kita mudah
percaya adalah kebiasaan konsumsi informasi yang serba cepat. Kita jarang
membaca secara utuh, apalagi mengecek sumber. Judul sudah cukup untuk membentuk
kesimpulan. Fenomena ini sering disebut sebagai headline reading, membaca
judul tanpa memahami isi. Akibatnya, kita mudah terjebak pada narasi yang belum
tentu benar. Lebih jauh lagi, menurut konsep confirmation bias, manusia
cenderung mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinannya, dan
mengabaikan yang bertentangan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh
Peter Wason. Artinya, kita tidak selalu mencari kebenaran, kita lebih sering
mencari pembenaran.
Media Sosial dan Algoritma: Lingkaran yang Menguatkan
Media sosial tidak hanya menyajikan
informasi, tetapi juga menyaringnya melalui algoritma. Apa yang sering kita
lihat, itulah yang akan terus ditampilkan. Jika kita sering menyukai konten
tertentu, maka platform akan menyajikan lebih banyak konten serupa. Akibatnya,
kita hidup dalam echo chamber, ruang gema di mana kita hanya mendengar
pendapat yang sejalan dengan kita. Fenomena ini membuat kita semakin yakin
bahwa apa yang kita percaya adalah kebenaran mutlak, padahal itu hanya sebagian
kecil dari realitas.
Efek Emosi: Ketika Logika Kalah Cepat
Menariknya, informasi yang paling
cepat menyebar bukanlah yang paling akurat, melainkan yang paling emosional.
Konten yang memicu marah, takut, atau simpati cenderung lebih mudah dipercaya
dan dibagikan. Menurut penelitian dari Massachusetts Institute of Technology
(Vosoughi et al., 2018), berita palsu menyebar lebih cepat daripada berita
benar di media sosial, terutama karena sifatnya yang lebih mengejutkan dan
emosional. Dalam kondisi ini, logika sering kali datang terlambat. Kita sudah
percaya, bahkan sudah menyebarkan, sebelum sempat berpikir kritis.
Dampaknya: Dari Salah Paham hingga Polarisasi
Kebiasaan percaya tanpa bertanya bukan hanya masalah
individu, tetapi juga sosial. Dampaknya bisa meluas:
- Munculnya
misinformasi dan disinformasi
- Polarisasi
masyarakat (terpecah karena perbedaan opini yang dianggap fakta)
- Menurunnya
kualitas diskusi publik
- Mudahnya
masyarakat dipengaruhi oleh narasi tertentu
Dalam jangka panjang, ini bisa merusak kepercayaan
terhadap informasi yang benar-benar kredibel.
Belajar Bertanya: Kunci di Tengah Banjir Informasi
Di tengah semua ini, kemampuan paling penting bukanlah
menghafal informasi, tetapi mempertanyakannya.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Cek
sumber: siapa yang menyampaikan?
- Baca
lebih dari satu referensi
- Bedakan
antara opini dan data
- Jangan
langsung membagikan sebelum memahami
Bertanya bukan berarti skeptis berlebihan, tetapi
bentuk tanggung jawab sebagai konsumen informasi.
Menjadi Cerdas Bukan Sekadar Tahu, Tapi Mau Tahu
Di era sekarang, menjadi
“terinformasi” itu mudah. Tapi menjadi paham
adalah hal yang berbeda. Kita tidak kekurangan informasi, kita kekurangan
kehati-hatian. Maka mungkin, yang perlu kita biasakan bukanlah membaca lebih
banyak, tetapi berpikir lebih dalam.
Karena di antara opini dan fakta, selalu ada ruang untuk bertanya. Dan di
situlah, kebenaran perlahan menemukan jalannya.
Daftar Pustaka
Peter Wason
(1960). On the Failure to Eliminate Hypotheses in a Conceptual Task.
Quarterly Journal of Experimental Psychology.
Massachusetts
Institute of Technology – Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The
spread of true and false news online. Science.
Boyd, D.
(2014). It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens. Yale
University Press.
Kahneman, D.
(2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
Lewandowsky,
S., Ecker, U. K. H., & Cook, J. (2017). Beyond Misinformation:
Understanding and Coping with the “Post-Truth” Era. Journal of Applied
Research in Memory and Cognition.