-->

BUDAYA IKUT-IKUTAN : “KENAPA KITA TAKUT BERBEDA?”

BUDAYA IKUT-IKUTAN : “KENAPA KITA TAKUT BERBEDA?”

Penulis,
Nama Lengkap : Nastiti Indra Mustafa
NIM : 183251077
Prodi : Biologi
Fakultas : Sains Teknologi
Mahasiswa Unair

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kita hidup dalam dunia yang serba cepat, tren datang dan pergi dalam hitungan hari, bahkan jam. Apa yang viral hari ini bisa jadi usang besok pagi. Dalam situasi seperti ini, muncul satu fenomena yang semakin terasa nyata: keinginan untuk selalu ikut arus. Kita ingin sama, ingin relevan, ingin tidak tertinggal.

Namun di balik itu semua, tersimpan satu pertanyaan mendasar: kenapa kita begitu takut untuk berbeda?”

FOMO: Ketika Ketertinggalan Terasa Menakutkan

Fenomena ini sering disebut sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Patrick J. McGinnis, yang menggambarkan FOMO sebagai kecemasan sosial karena merasa tertinggal dari pengalaman orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO hadir dalam bentuk yang sederhana namun berdampak besar. Kita merasa harus datang ke tempat yang sedang viral, mencoba makanan yang sedang tren, atau mengikuti gaya hidup tertentu, bukan karena kebutuhan, tetapi karena takut “tidak ikut cerita”.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior oleh Andrew K. Przybylski menunjukkan bahwa FOMO berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia akan keterhubungan sosial. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, muncul kecemasan dan dorongan untuk terus “terhubung”, salah satunya melalui mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Ironisnya, semakin kita mengejar agar tidak tertinggal, semakin kita merasa kurang. Hidup orang lain tampak selalu lebih menarik, lebih penuh, dan lebih berarti.

Media Sosial: Realitas yang Dikontruksi

Peran media sosial dalam memperkuat budaya ikut-ikutan tidak bisa diabaikan. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X telah menjadi ruang utama dalam membentuk persepsi kita tentang kehidupan. Di sana, orang tidak hanya berbagi kehidupan, mereka mengkurasi kehidupan. Yang ditampilkan adalah momen terbaik: liburan indah, pencapaian gemilang, atau kebahagiaan yang tampak sempurna. Sementara itu, kegagalan, kesedihan, dan keraguan jarang terlihat. Menurut teori social comparison dari Leon Festinger, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengevaluasi diri. Namun, ketika yang dibandingkan adalah realitas kita dengan “versi terbaik” orang lain, hasilnya sering kali adalah rasa tidak cukup. Lebih jauh, algoritma media sosial justru memperkuat siklus ini. Konten yang viral akan terus didorong ke lebih banyak pengguna, menciptakan standar baru yang seolah-olah harus diikuti oleh semua orang.

 

Tekanan Sosial: Antara Diterima atau Tersingkir

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai kebutuhan akan belongingness. Ketika kita berbeda terlalu jauh, ada ketakutan akan penolakan, baik secara nyata maupun simbolik. Di era digital, bentuk penolakan itu bisa sangat halus: sedikitnya interaksi, minimnya respons, atau bahkan sekadar merasa “tidak nyambung”. Validasi kini hadir dalam bentuk angka, likes, views, dan komentar. Akibatnya, banyak orang lebih memilih untuk menyesuaikan diri daripada mempertahankan keunikan. Kita mulai bertanya bukan lagi “apa yang aku suka?”, tetapi “apa yang sedang disukai banyak orang?”.

Budaya Ikut-Ikutan: Antara Adaptasi dan Kehilangan Diri

Sebenarnya, mengikuti tren bukanlah hal yang sepenuhnya salah. Dalam batas tertentu, itu adalah bentuk adaptasi sosial. Namun, masalah muncul ketika kita kehilangan kendali, ketika keputusan kita sepenuhnya ditentukan oleh apa yang sedang populer.

Budaya ikut-ikutan yang berlebihan dapat membuat kita:

  • Kehilangan identitas diri
  • Mengalami tekanan sosial yang tidak perlu
  • Menghabiskan waktu dan energi untuk hal yang tidak bermakna
  • Terjebak dalam siklus perbandingan yang melelahkan

Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada kesehatan mental, termasuk meningkatnya kecemasan dan rendahnya kepuasan hidup.

Berani Berbeda di Tengah Keseragaman

Menjadi berbeda di era sekarang bukan perkara mudah. Dibutuhkan keberanian untuk keluar dari arus utama, untuk memilih apa yang benar-benar kita inginkan, bukan sekadar apa yang sedang ramai. Namun, penting untuk disadari: tidak semua yang viral itu relevan bagi kita. Dan tidak semua yang kita butuhkan harus divalidasi oleh orang lain. Berbeda bukan berarti menolak dunia luar. Justru, ini tentang menyaring, mengambil yang sesuai, dan meninggalkan yang tidak. Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi paling sama, melainkan perjalanan untuk menjadi paling autentik.

 

Daftar Pustaka

Andrew K. Przybylski, Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Leon Festinger (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.
Patrick J. McGinnis (2004). McGinnis’ original concept of FOMO.

Przybylski, A. K. et al. (2013). Fear of Missing Out and Social Media Engagement.

Boyd, D. (2014). It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens. Yale University Press.

Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.




Materi Terkait:



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel