Ini Kemuliaan Ibadah Haji

HAJI merupakan ibadah agung yang diwajibkan Allah kepada seluruh hamba-Nya sekali seumur hidup. Ia mencakup berbagai perkara yang berhubungan dengan harta dan jiwa. Dimana semua orang berlomba-lomba untuk bisa pergi ke tanah suci.

Perjuangan secara lahiriah, batiniah, hingga satu jalan yang dirintis selama bertaahun-tahun itu dapat terealisasikan. Bagaimanapun cara Allah dalam menyampaikan undangannya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat Nabi Saw, “Umrah yang satu dengan umrah yang lainnya merupakan penghapus dosa yang dilakukan diantara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali surga.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw ditanya tentang amalan paling baik, maka beliau menjawab, “Beriman terhadap Allah dan Rasul-Nya.”

Ditanyakan lagi, “Lalu apa lagi?”

Rasulullah menjawab, “Jihad di jalan Allah.”

Ditanyakan lagi,” Lalu apa lagi?”

Rasulullah menjawab, “Haji mabrur.”

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menunaikan ibadah haji karena Allah, lalu dia tidak berbuat keji dan fasik, maka dia telah kembali seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa haji mabrur adalah haji yang dilakukan oleh seseorang sesuai dengan Sunnah Rasulullah. Diantara ciri-cirinya yaitu, setelah selesai melaksanakan ibadah haji, orang itu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Jika kondisi seseorang berubah setelah berhaji, dari buruk menjadi baik atau menjadi lebih baik lagi maka hajinya mabrur.

Pelaksanaan ibadah haji dan umrah berpengaruh pada pendekatan diri kepada Allah Swt. Dengan berbagai ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali ditempat tersebut seperti tawaf, karena tawaf adalah ibadah yang Allah jadikan sebagai keistimewaan Ka’bah. Apabila dia telah tiba di Ka’bah , lalu melaksanakan tawaf dan mendekatkan dirinya kepada Allah dengan ibadah yang apabila tidak sampai di Ka’bah maka tidak akan bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan ibadah tersebut, karena ia tidak bisa dilakukan kecuali berada di sekeliling Ka’bah.

Pengaruh lain dari ibadah haji dan umrah adalah seseorang yang berihram ketika melepaskan pakaiannya dan memakai selendang, maka orang kaya dan miskin menjadi sama. Dengan pakaian ini dia teringat akan kain kafan yang dipakaikan kepadanya kelak. Dengan begitu, dia bersiap-siap menghadapi kematian dan melakukan amal soleh sebagai sebaik-baik bekal. Sebagaimana firman Allah, “ Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,” (QS Al-Baqarah [2]:197).

Pengaruh positifnya, perkumpulan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji di Arafah, akan mengingatkan mereka pada perkumpulan manusia di Hari Kiamat. Hal itu dapat mendorong persiapan menghadapi hari itu dengan amalan soleh.

Dalam ibadah haji, seluruh kaum muslimin dari barat dn timur saling bertemu, berkenalan, memberi nasihat, dn mengetahui kondisi satu sama lain. Mereka dapat saling merasakan kebahagiaan, kesakitan, membantu dalam melakukan kebaikan dan ketakwaan keada Allah Saw. Secara bersama-sama. [ta/islampos]

Sumber : Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah/Ahmad Abduh ‘Iwadh/Salamadani/2012/islampos/afdhalilahi